Header Ads

Bakrie Sudah Kaya, Mau Apa Lagi?

korban lumpur lapindosiapa yang tidak kenal dengan bakrie atau setidaknya salah satu dari keluarga bakrie, Abu Rizal Bakrie atau yang sering dipanggil degan ical, sang pemuncak posisi partai beringin. bakrie adalah salh satu kekuatan ekonomi Indonesia yang patut diperhitungkan. Pada 2011, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, Ical menduduki peringkat ke-30 dengan total kekayaan US$ 890 juta (sumber: wikipedia). ia sudah kaya, apa lagi yang masih dikejar? memang benar, uang itu ibarat air laut, semakin diminum semakin membuat haus.


seandainya saja saya masuk dalam dunia mereka dalam jajaran CEO bakrie (mustahil bangeeeet), ada yang harus dikejar oleh bisnis keluarga mereka. bukan uang, bukan jabatan politik, bukan wanita, dan bukan harta kasat mata lainnya. keluarga ini harus mengejar semburan lumpur lapindo. lho apa hubungannya dengan bakrie? sangat besar hubungannya. lalu apa keuntungannya? keuntungan batinlah yang akan didapat. sebagaimana pesan dari bapak H. Achmad Bakrie (sebagaimana tertulis dalam header blog anindya bakrie), "setiap rupiah yang dihasilkan bakrie harus bermanfaat bagi orang banyak".


kita ulas sejenak mengenai sejarah tragedi lumpur Lapindo. waktu itu (2006) di sana (lapindo) sedang terjadi pengeboran minyak oleh Lapindo Brantas Inc. yang kemudian, entah karena pengeboran itu atau karena efek gempa jogja atau karena memang adanya gunung lumpur di sana, menyemburlah lumpur yang kini menjadi sangat luas. mengutip dari wikipedia, "Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ditunjuk BPMIGAS untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi. Saham Lapindo Brantas dimiliki 100% oleh PT. Energi Mega Persada melalui anak perusahaannya yaitu PT Kalila Energy Ltd (84,24 persen) dan Pan Asia Enterprise (15,76 persen). PT. Energi Mega Persada sebagai pemilik saham mayoritas Lapindo Brantas merupakan anak perusahaan Grup Bakrie. Grup Bakrie memiliki 63,53% saham, sisanya dimiliki komisaris EMP, Rennier A.R. Latief, dengan 3,11%, Julianto Benhayudi 2,18%, dan publik 31,18%"


Mungkin (sekali lagi "mungkin") pembayaran hutang atas kejadian ini secara hukum adalah lunas, tapi bisa dilihat sendiri bagaimana yang terjadi di porong sana. sekali lagi, keluarga bakrie sudah kaya, apa lagi yang mau dikejar? pernah saya mengatakan dalam komen salah satu blogger, "adanya orang miskin adalah karena ada orang kaya." bagaimana agar tidak ada orang miskin? ada dua cara, yang kaya juga ikut miskin, atau yang miskin juga ikut menjadi kaya. jika sama-sama miskin atau sama-sama kaya, tidak ada lagi orang miskin. pernyataan yang lebih elegan adalah yang miskin ikut menjadi kaya bukannya sama-sama menjadi miskin. sebagai pihak yang memiliki perusahaan pengeboran minyak di porong, bakrie memiliki kewajiban melunasi hutang itu, baik hutang materi maupun moral, entah berapapun yang telah dan harus dikeluarkan. ini adalah sebuah kewajiban dari sebuah kerajaan bisnis yang harus dipenuhi dalam bentuk CSR, Corporate Social Responsibility. mungkin grup Bakrie telah menyumbang banyak hal di seluruh penjuru tanah air. tapi, ibarat karena nila setitik rusak susu sebelanga, pengorbanan yang besar itu akan menjadi sia-sia jikalau kewajiban yang besar ini tidak terpenuhi.


seandainya saja saya masuk dalam dunia mereka dalam jajaran CEO bakrie (ngigau lagi nieh), akan saya korbankan salah satu atau dua atau beberapa anak atau cucu perusahaan untuk memenuhi kewajiban itu. bagaimana caranya? belikan saja mereka, para korban lapindo, rumah atau apartemen (bukan rusunawa) dan diberikan secara cuma-cuma. kemudian, buat unit usaha baru yang bisa menampung mereka bekerja. bukankah itu akan menguntungkan kedua pihak? dilihat dari sisi masyarakat, mereka mendapatkan rumah yang hilang dan mendapatkan sumber keuangan keluarga sehingga memiliki dapur dan di dapur itu mereka bisa menanak nasi. sekali lagi, bukankah bakrie sudah kaya, apa lagi yang mau dikejar kalau bukan untuk kebermanfaatan banyak orang?


tindakan seperti ini adalah tindakan nekat. tapi, bukan sebuah kerajaan bisnis namanya jika tidak nekat. tindakan ini perlu "membuang uang" yang tidak sedikit. tapi, jika saja bisa berinvestasi untuk mendirikan unit usaha baru, tentu saja bisa membeli "pulau" untuk dihuni oleh masyarakat korban lapindo. atau dengan kata lain, jual saja saham yang dimiliki untuk membeli lahan beserta rumahnya. tindakan "foya-foya" ini akan lebih bermanfaat daripada digunakan untuk kampanye presiden. meski menghamburkan uang, saya yakin kerajaan bisnis ini tidak akan menjadi miskin.


bakrie memiliki tangan dan kaki yang banyak. ibarat gurita dengan tentakelnya, bakrie telah mencengkeram berbagai unit bisnis, dari telekomunikasi, lansekap, plantation, hingga sumber daya alam yang terkubur dalam perut bumi. kalau saja akan membangun sebuah lahan perumahan baru baik rumah biasa atau apartemen untuk para korban lumpur lapindo, bukan tindakan yang sulit. ini tinggal bagaimana memanfaatkan sumber daya yang dimiliki.


sistem yang di dalamnya terdapat entitas manusia adalah sistem yang sangat dan paling rumit. jika saja tindakan ini dilakukan, bukan saja kita berbicara mengenai uang dan lahan. tapi, banyak tentakel dari gurita lain yang siap mendesak kita untuk tidak melakukannya. entah gurita itu dari kalangan politisi atau justru tentakel kita sendiri yang menyenggol tentakel yang lain. di sinilah CEO tetap memantau agar tujuan dari tugas mulia ini tercapai. di lapangan, kita juga akan bertemu dengan para masyarakat yang tidak jarang justru menentang tindakan yang sebenarnya bermanfaat bagi mereka. yang terpenting, jangan hanya berwacana, tapi mereka perlu rumah. berikan mereka rumah atau rumah bakrie yang akan mereka ambil alih.


jangan bicarakan apa yang telah mereka terima dan apa yang terlah kita berikan, tapi apa yang akan dan selalu kita berikan hingga mereka benar-benar nyaman. CEO bukan hanya berbicara bagaimana uang masuk ke kantong tapi bagaimana uang itu terhambur. uang kertas dan uang koin hanya ibarat kertas buku tulis atau botol minuman soda. kertas buku tulis akan bermanfaat jika digunakan untuk menulis dan botol minuman akan bermanafaat jika digunakan untuk menutup botol. begitu juga dengan uang, akan bermanfaat jika dibelanjakan. ingat, menabung adalah cara untuk menghindarkan kita dari kemiskinan, tapi shadaqah adalah cara kita menuju kepada kekayaan.


sumber gambar: http://korbanlumpur.info


baca juga Informasi Itu Mahal Bung!