Header Ads

Apakah Kita Termasuk Teroris?

sebelumnya, saya di sini tidak menghubungkan terorisme dengan agama. jadi buang jauh-jauh dalam fikiran kita mengenai korelasi antara agama dengan terorisme. sejak kapan anda mengenal kata "teroris"? mungkin sebagian dari kita mengetahui mengenai teroris baru sejak terjadinya bom bali atau sejak peristiwa hancurnya duo gedung WTC di amerika. kemudian bagaimana perasaan anda ketika mendengar atau melihat berita kasus terosisme di media massa? takut, khawatir, biasa saja, atau justru tidak peduli? beruntunglah jika anda termasuk yang biasa saja dan tidak peduli. lho kok? ya, dari pada anda ikut-ikutan jadi teroris. sebenarnya apa tujuan dari terorisme? menghancurkan kah? belum tentu. membuat ketakutan lah tujuan utamanya.


dalam novel Angels and Demons karya Dan Brown, tujuan terorisme sangat sederhana; menciptakan teror dan ketakutan. Ketakutan merusak keyakinan diri seseorang. teroris memperlemah musuh dari dalam, menyebabkan ketidaktenteraman dalam masyarakat. jadi, ketika para tokoh yang kita sebut sebagai teroris itu melancarkan aksinya dengan menghancurkan suatu benda atau bangunan, kehancuran benda tersebut dan kematian korban yang ada di lokasi bukanlah tujuan utama dari terorisme. istilah mudahnya adalah cari perhatian. ketika para pihak yang diserang menjadi takut, khawatir dan kemudian mereka memperhatikan para teroris beserta aksinya, saat itulah tujuan dari terorisme tercapai.


tapi yang terjadi di masyarakat indonesia saat ini, terorisme buka lagi meresahkan pihak tertentu tapi justru meluas ke seluruh kalangan masyarakat. karena tujuannya meluas, maka tujuan dari terorisme justru bisa dibilang sangat sukses. aksi teror yang meluas ini justru bukan dilakukan oleh para teroris yang melakukan pengeboman di lokasi-lokasi tertentu tapi justru dilakukan oleh pihak luar, yakni media massa. media massa khususnya televisi memiliki peran penting dalam kesuksesan terorisme. dengan pemberitaan yang jor-joran dari media massa, masyarakat bukan lagi mengetahui mengenai fakta terorisme, melainkan masyarakat menjadi takut dan khawatir. media massa bukan lagi memainkan peran memberitakan fakta tapi berdeviasi ke arah membangun opini publik. ketika media massa membangun opini publik mengenai terorisme tanpa didasari dengan fakta yang kuat, maka masyarakat akan berjalan ke arah opini yang sesuai dengan yang telah dibangun oleh media massa. ketika opini masyarakat terbentuk tanpa didasari oleh ilmu masyarakat yang cukup kuat untuk membedakan antara fakta dan opini, maka masyarakat akan menganggap bahwa semua yang dilihat dan didengar adalah fakta. ketakutan masyarakat pun terjadi.


membangun opini sah-sah saja, itu bukan sebuah perbuatan yang mudah. istilah "mudah" bukan hanya dalam menyampaikan tapi juga membuat opini yang benar. dan kebenaran itu dapat bersifat relatif tergantung siapa yang berbicara dan apa parameter kebenaran yang digunakan. meskipun bersifat relatif, tapi kebenaran hakiki ada yang tidak bisa diganggu gugat yaitu kebenaran dari Tuhan. ketika media massa membangun opini tanpa mempertimbangkan unsur ketuhanan, maka opini yang melenceng pun akan sangat mungkin terjadi. jika media massa belum bisa membuat opini publik yang benar, maka lebih baik menyampaikan fakta yang seharusnya diketahui oleh masyarakat dan dalam porsi yang tepat.


jadi, siapa yang telah berperan menjadi teroris? media massa atau terduga yang telah mati dibunuh oleh densus 88? para terduga tidak bisa menyampaikan fakta apakah dia bersalah atau tidak. tidak bisa menyampaikan apa motif mereka melakukannya karena telah mati. tapi media massa tidak bisa mengatakan kebenaran karena fakta telah bercampur dengan opini.


official merchancise edisipertama