Header Ads

Pelajaran Bahasa Indonesia yang Terlupakan

saya sering merasa risau dengan penggunaan bahasa Indonesia yang sering tidak pada tempatnya. seperti pada kasus terakhir, meninggalnya dua orang sahabat dari FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran) dalam kecelakaan bus di Purwokerto. banyak media yang memberitakan, dan banyak dari kita mengutipnya mentah-mentah bahwa kecelakaan tersebut menewaskan dua mahasiswa. istilah "menewaskan" begitu sarkastis di telinga. apa bedanya dengan para penjahat yang sering disebut dengan "tewas" juga, padahal beliau berdua adalah para pejuang dakwah. pantaskah beliau berdua disamakan dengan para penjahat? saya memang bukan ahli bahasa atau pengamat bahasa bahkan saya dalam menggunakannya juga masih jauh dari baik tapi saya hanya prihatin ketika kasus tersebut terjadi.

sebagaimana yang saya sampaikan pada posting mengenai bahasa jawa, bahasa indonesia pun seharusnya berhati-hati. dalam berbahasa kita juga harus bijaksana. kita seyogyanya bisa menempatkan diri pada tempatnya. dalam budaya jawa dikenal dengan "ajining diri dumunung ing lathi, ajining raga dumunung ing wusana" atau kurang lebih kekuatan/nilai diri terletak pada lisan/ucapan, kekuatan/nilai dari badan terletak pada busana. jadi, jika kita ingin diberi nilai yang tinggi oleh orang lain, kita harus menjaga ucapan atau lisan kita.

dahulu, ketika masih di bangku Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah (SMP/SMA), pelajaran bahasa indonesia sering kali dianggap pelajaran yang gampang dan disepelekan. akibatnya, ketika sudah keluar dari bangku sekolah kita menggunakan bahasa yang salah. penggunaan konotasi yang kurang tepat sering kali kita lakukan salah satunya pada kasus di atas.

keprihatinan saya juga terjadi ketika istilah-istilah tertentu selalu dipolitisasi. misal saat pemilukada jakarta yang lalu, salah satu calon sering menggunakan kata "sistem". akibatnya, ketika ada orang berbicara mengenai sistem dianggap telah meniru calon tersebut. atau ketika salah satu partai politik menggunakan kata "merdeka" sebagai pembangkit semangat. akibatnya ketika ada yang memekikkan kata 'merdeka", ia dianggap berafiliasi dengan partai politik tersebut. dan ini pernah terjadi di salah satu acara talk show televisi swasta (sayangnya saya tidak memiliki rekaman acara tersebut). serta istilah-istilah lain yang juga dipolitisasi.

keprihatinan kita seharusnya juga terjadi ketika penggunaan bahasa yang kurang tepat dilakukan oleh orang nomor satu di republik ini, presiden republik indonesia. sering kita mendengar pidato beliau dengan bahasa asing dan ketika menggunakan bahasa Indonesia pun kurang pas. untuk analisis berkaitan dengan bahasa beliau sudah banyak analis bahasa yang mengkritisi.

mari kita perbaiki penggunaan bahasa kita sehari-hari agar tidak ada yang tersakiti. karena salah satu butir dalam sumpah pemuda adalah menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa indonesia. jika dengan bahasa kita justru menyinggung perasaan orang lain itu berarti bahasa bukan lagi menjadi bahasa persatuan melainkan bahasa perpecahan. dengan bahasa kita bisa menjatuhkan orang lain dan dengan bahasa pula kita bisa menjunjung orang lain begitu juga dengan diri kita.

semoga beliau para korban meninggal kecelakaan tergolong para syuhada, para keluarga semoga senantiasa diberi ketabahan, bagi para korban selamat semoga lekas sembuh dan kembali berjuang di jalan dakwah. aamiin.