Header Ads

Ajang Pencarian Bakat Menanti Inovasi

Jumat malam Sabtu di televisi rasanya memang sudah identik dengan program pencarian bakat Indonesian Idol. saya bukan lagi penggemar acara tersebut bahkan tidak pernah nonton. saya hanya tahu ketika sesekali menyalakan tv atau ketika ada pertemuan dengan beberapa remaja dan pemuda, si empunya rumah sedang menonton acara tersebut.



Indonesian Idol hanya satu dari sekian acara yang bertema pencarian bakat. ada beberapa acara serupa sebut saja Dangdut Academy, beberapa waktu lalu ada X-Factor, The Voice Indonesia, IMB (Indonesia Mencari Bakat), dahulu ada AFI (Akademi Fantasi Indosiar), KDI (kalau ga salah Kontes Dangdut TPI), dan lain sebagainya. bukan hanya aksi panggung saja, bahkan dunia dapur pun dipertandingkan semisal Master Chef Indonesia.



saya baru tahu pertama kali acara pencarian bakat pada tahun 2004, waktu itu ada AFI dan Indonesian Idol. sebagai anak SMA, saya cukup mengikuti meski tidak pake banget. tapi memasuki generasi selanjutnya dari kedua acara tersebut, saya mulai tidak mengikutinya. alasannya, pertama karena kesibukan, kedua karena saya merasa kualitas acara semakin menurun. mungkin bukan menurun melainkan karena ekspektasi atau harapan saya atas acara tersebut cukup tinggi tetapi si pembuat program menampilkan stagnansi.



mungkin bukan hanya saya yang merasakan bahwa acara seperti itu pada tahun-tahun yang lalu terutama pada generasi pertama atau kedua lebih ada gregetnya. sampai-sampai penonton ikut terbawa pada suasana. tapi sekarang merasa kok kualitasnya begitu-begitu saja. Anda mungkin lebih hafal dengan peserta pada generasi awal daripada peserta yang ikut sekarang.



menjadi generasi pertama itu bisa dibilang diuntungkan. generasi pertama adalah "korban" inovasi karena sebelumnya tidak ada acara seperti itu. ketika acara tersebut hadir masyarakat termasuk saya merasa ada sesuatu yang baru. ketika acara itu hadir kembali dengan model yang sama atau tidak jauh berbeda, kita merasa tidak ada yang "greng" jadi sudah mulai ada rasa jenuh. demikian selanjutnya hingga generasi ke sekian.



itulah inovasi, membuat sesuatu yang baru. :)