Header Ads

Mengalirlah Seperti Air

sebenarnya tulisan ini terinpirasi sekaligus menjawab/menanggapi tulisan om Asmari yang berjudul "Jangan Mengikuti Air yang Mengalir". saya membaca tulisan tersebut sebagai sebuah keraguan atas falsafah yang telah berkembang lama di masyarakat "mengikuti air yang mengalir". tulisan tersebut tidak salah hanya saja kita akan berbicara dengan sudut pandang yang berbeda.


uinsukasaya teringat dengan salah satu tulisan/prasasti yang ada di depan masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, diambil dari Serat Lokajaya, "Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli", kurang lebih berarti mengikuti aliran air, ternhanyut tapi tidak hanyut. sebenarnya perlu pembahasan yang panjang dalam menerjemahkan dan menafsirkan sebuah tulisan dari kitab tetapi mari kita berbicara dengan cara yang sederhana.


kita hidup dalam masyarakat yang begitu komplek. anggap saja masyarakat beserta sistem yang ada adalah aliran air. kita tidak mungkin melawan arus. melawan arus berarti kita melawan sistem. kita berpakaian pun sebenarnya mengikuti arus. cara berpakaian lima puluh tahun yang lalu dengan masyarakat di masa kini tentu saja berbeda. begitu juga dengan hal-hal lain yang bisa kita ikuti arusnya.


tetapi belajar dari air pula, kita juga harus memiliki tujuan hidup. air ditakdirkan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. air di sungai memiliki tujuan yang pasti yaitu lautan. tapi ada pula yang tidak mencapai tujuan di laut dan hanya menjadi comberan. semua tergantung pada kita mau mencapai lautan dan bertemu dengan air sedunia atau hanya menjadi air comberan?


tetapi, kita juga harus sadar diri bagaimana takdir kita. air boleh saja mengalir ke laut. tetapi ada pula yang ditakdirkan meresap ke pori-pori tanah. atas takdir itu, tumbuhan bisa tumbuh dengan hijau, binatang herbivora bisa memakan tumbuhan, dan selanjutnya.


kita boleh saja mengikuti arus yang ada asal jangan sampai lupa apa yang menjadi tujuan hidup. kita boleh saja bahkan harus mencanangkan sebuah target tetapi jangan sampai kita lupa atas apa yang menjadi takdir kita. belajar pada air, kita belajar mengenai bagaimana menyikapi arus yang ada, tujuan hidup kita, dan bagaimana menyikapi takdir. jadi hiduplah seperti air karena tubuh kita disusun oleh air.


bagaimana dengan tulisan om Asmari? kita hanya beda sudut pandang saja. :)


baca juga mengenai diam itu emas atau alon-alon waton kelakon ya...



sumber gambar dari kompasianer