Header Ads

Film Indonesia Harus Lebih Baik

Apakah Anda termasuk golongan "sufi" alias suka film? seberapa sering Anda menonton film di bioskop? atau seberapa sering Anda mendownload serta menonton film bajakan? jangan-jangan Anda termasuk orang yang lebih suka menonton film di komputer alias film bajakan hasil download atau copy dari warnet daripada nonton langsung di bioskop. saya termasuk salah satunya, karena sampai sekarang saya belum pernah nonton di bioskop *kasihan kasihan kasihan*.


Terkait film bioskop, saya teringat dengan salah satu pertanyaan dari seorang guru seni rupa di SMA saya, "mengapa sekarang (tahun 2005) kondisi bioskop memprihatinkan dan tidak ada yang nonton?". lalu anak-anak di kelas, sebagaimana seperti yang saya pikirkan, menjawab karena masing-masing kita sudah memiliki tv di rumah, jadi lebih suka menonton tv. beliau pun bertanya lagi, "apakah di amerika tidak ada tv? di sana tv-nya justru lebih canggih, tayangannya juga lebih bagus, tetapi bioskop juga ramai dikunjungi". seketika semua terdiam diam membenarkan.


Bagi generasi tua, terlebih yang lebih tua dari saya (karena saya masih muda hehe), melihat bioskop pada era 80an-90an lebih dipenuhi sensualitas. jadi kalau zaman SD dulu ada teman saya yang nonton di bioskop (sekarang bioskopnya sudah gulung tikar) langsung dibawa ke ruang guru/BP, sama seperti yang ada di film Sang Pemimpi.


Kini kondisinya sudah jauh berbeda. dari sisi kualitas, film Indonesia sekarang sudah jauh berbeda, meski masih saja ada film yang menjual sensualitas. penonton sekarang sudah bisa menilai mana film yang bagus dan mana yang jelek. jika produser dan sutradara tidak bisa membuat film yang bagus, para penikmat film akan beralih menonton kepada film lain. kini dan nanti, industri film bukan lagi bersifat monopoli yang mana setiap film yang diproduksi pasti ditonton. melainkan, persaingan bisnis murni ketika penikmat film akan disuguhi banyak pilihan dan mereka akan cenderung dan secara alamiah memilih film bagus. di tahun ini dan mendatang film bagus mutlak dihadirkan agar produser film tidak merugi.


Beberapa waktu yang lalu saya membaca marketeers.com di mana Rexinema akan memproduksi film Cai Lan Gong yang proses perekaman menggunakan Samsung Galaxy Note 4. film ini akan mengembalikan esensi film horor yang tidak dibumbui dengan pornografi, vulgarisme, dan sensualitas. hal ini menunjukkan adanya kesadaran dari pihak rumah produksi bahwa sensualitas bukan lagi faktor utama yang mendongkrak penjualan melainkan kualitas film itu sendiri.


Sebagaimana di 2014 dan beberapa tahun sebelumnya, film-film bagus banyak penontonnya. parameter bagus itu tergantung dari masing-masing penonton. semisal film Habibie dan Ainun (2012) menceritakan hal-hal yang menginspirasi, serta kisah asmara yang tampil secara elegan dan tidak lebay menjadi nilai plus yang menarik penonton. atau film The Raid yang memuaskan dahaga atas film action dalam negeri. yang pasti penonton ibarat sedang kehausan dan menanti air yang menyejukkan. dan tantangan dari rumah produksi adalah menghadirkan air kesejukan tersebut.


Bioskop lokal siapkah? di jogja saat ini yang ramai (setahu saya karena saya juga belum pernah nonton), adalah bioskop jaringan Cineplex 21 di Ambarukmo plasa. masih dari grup yang sama ada juga Empire XXI di jalan Urip Sumoharjo. dan bioskop-bioskop lokal yang dulu pernah berjaya di masanya telah mati. bagaimana di kota lain? saya rasa nasibnya tidak jauh berbeda. apakah mereka yang sudah mati bisa hidup lagi? ataukah akan lahir bisokop baru dengan citarasa lokal kualitas internasional? saya harap begitu, meski butuh orang yang benar-benar gila untuk mewujudkannya.


Sampai saat ini saya tidak mungkin menjadi blogger film. bagaimana bisa saya menjadi blogger film sedangkan saya saja tidak pernah nonton film di bioskop. blogger film dituntut untuk menjadikan preview maupun review dari berbagai sudut pandang mengenai film. bukan saja film yang sedang ngetren di bioskop tetapi juga film yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. hal ini agar mereka yang belum menonton film tergerak untuk menontonnya. tapi satu hal yang harus kita ingat bahwa blogger film bukan penyedia link download film! oke?


Berbicara mengenai film sama saja berbicara mengenai kehidupan. ada yang lahir ada pula yang mati. ada yang menjadi baik dan ada pula yang terinspirasi menjadi jahat. oleh karena itu, positivisme harus selalu dibangun salah satunya lewat film. stop pembajakan dan sama-sama kita bangun industri film nasional dengan cara kita masing-masing. kapan-kapan membuat postingan tentang film Indonesia yang harus lebih baik lagi karena postingan ini sudah terlalu panjang hehe. :)