Header Ads

Sebatas Pagar Tribun Perlu Jawaban

"Sebatas pagar tribun" demikian yang sering saya baca di media sosial terkait dengan suporter sepakbola Indonesia. tetapi jika kita melihat apa yang terjadi di negeri ini, slogan tersebut masih sebatas slogan dan belum diresapi sepenuhnya oleh suporter itu sendiri. terbukti masih maraknya kerusuhan yang terjadi di kalangan suporter. bahkan slogan lain, "Till I die" menjadi pembenaran adanya kekerasan dalam kaitannya dengan sepakbola.


Ceritanya sore tadi (Jumat, 13/3/2014) sekitar jam 20.00 WIB saya sedang perjalanan pulang. jalan yang saya lewati biasanya sepi karena memang bukan jalan protokol. tetapi ada yang berbeda dengan sore tadi karena jalanan menjadi begitu ramai. kendaraan dengan nomor luar daerah, hingga truk dan bus besar pun lewat. saya hanya menduga-duga apa gerangan yang terjadi. satu yang terpikir adalah adanya kerusuhan di jalan protokol dan kendaraan mengalami pengalihan arus. sampai rumah langsung buka twitter dan benar ternyata ada pemblokiran jalan oleh salah satu kelompok suporter.




[caption id="" align="aligncenter" width="320"] sumber: pic.twitter.com/o22aN7B1W5[/caption]

Kejadian sore ini hanya satu hal yang "kecil" dan dianggap biasa terjadi di kalangan suporter. di beberapa kasus bahkan hingga terjadi adu fisik bahkan nyawa pun melayang. sampai saat ini saya masih belum bisa memahami cara berpikir mereka, para suporter, untuk apa semua itu. memang saya bukan seorang suporter dan bahkan hingga saat ini saya belum sekali pun nonton langsung pertandingan sepakbola di stadion. tetapi, bisa jadi sangat banyak orang yang belum pernah nonton di stadion tetapi merasa jengah dengan aksi para suporter di jalanan.


Apa sih untungnya menghidupkan kekerasan di kalangan suporter? saya rasa tidak ada. mereka hanya tidak menjaga gengsi yang bahkan kalau diuangkan pun tidak bisa. untuk klub, dengan adanya tawuran atau kerusuhan, justru mengalami merugikan yang teramat sangat. klub bisa terkena denda, sanksi, pelarangan bermain, dan lain sebagainya. dengan suporter yang suka tawuran dan rusuh, menghalangi penonton baru untuk ikut nonton di stadion. efeknya, keinginan sponsor untuk memasang adboard pun terhambat. dan efek domino lainnya yang berimbas kepada klub.


Bagi masyarakat sekitar tentu ketidaksenangan dengan suporter, masyarakat menjadi tidak simpati. aktivitas ekonomi menjadi terhambat. dan tentu saja efek bagi anak-anak, menjadikan adanya obsesi untuk ikut serta dalam tindakan kekerasan, entah sekarang atau nanti.




Jadi jika klub kalian menunggak gaji pemain, silakan lihat kembali bagaimana keadaan suporternya. apakah suporter bisa simpati dengan masyarakat, dengan calon penonton yang nantinya membeli tiket, dan dengan pengusaha yang akan menjadi sponsor?



Memahami ulang makna Till I die. bagi sebagian anggota supoter, slogan ini bermakna saya siap mati untuk mendukung tim. bahkan jika harus mati karena tawur, mereka siap. bagi saya itu pengertian yang bodoh. kalau semua mati, siapa yang akan mendukung? kembali pada di atas, apakah tawur dan rusuh adalah tindakan mendukung? bukankah itu justru merugikan? pemaknaan ulang Till I die perlu dan mutlak dilakukan. secara harfiah bisa diartikan "hingga saya mati" dan mati tersebut karena sebab normal bukan karena mati konyol di jalanan.


Luka masa lalu memang susah untuk hilang. tapi apakah sepakbola Indonesia melalui klub dan suporter benar-benar sudah tidak memiliki masa depan? mengapa begitu banyak orang tidak mau move on? ini bukan urusan tidak bisa tetapi tidak mau. mereka lebih memilih menjadi pendendam dan mewariskan dendam yang bahkan generasi mendatang tidak tahu masalah apa yang pernah terjadi di masa lalu.


Para pemain berpindah klub itu biasa. pelatih pun demikian. mereka bahkan sudah lupa ketika bermain dimana diejek apa. tetapi mengapa suporter menjadi begitu bodohnya dengan mengingat kejadian di masa lampau yang sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan masa mendatang. apakah dengan mengingat pertengkaran di masa lalu bisa meningkatkan gengsi dan prestasi?


Becik ketitik ala ketara. kebaikan sebesar apa pun hanya akan seperti titik yang akan terlihat jika benar-benar diamati. tetapi keburukan sekecil apa pun akan sangat mudah terlihat. koreo, menyanyi sepanjang pertandingan, atau pyro show, semua itu tidak banyak dari masyarakat yang tahu. tetapi begitu ada kerusuhan suporter meski hanya kecil, masyarakat akan langsung tahu. dan itu semua akan menghapus prestasi yang pernah didapat.


"Sebatas pagar tribun" apakah hanya berakhir di slogan dan berakhir tanpa makna? silakan capo, ketua umum, atau koordinator supoter/ultras menjawab. jawaban yang lebih kita inginkan adalah jawaban dalam bentuk aksi agar masyarakat simpati kepada supoter maupun klub hingga nantinya efeknya kembali ke klub pula.


Tulisan ini ditulis sambil mendengarkan lagu When the Children Cry - White Lion. pas banget dengan kondisi saat ini.
[embed]https://www.youtube.com/watch?v=iAFH2_3o-oo[/embed]