Header Ads

Pemodelan Sistem Lubrication Oil Division (LOD)

Sebelum Anda membaca terlalu jauh, saya sarankan Anda langsung scroll ke bawah sampai paragraf terakhir. Tetapi, jika Anda termasuk orang yang mendapat tugas dari dosen mengenai kasus LOD, mungkin tulisan ini bisa membantu. :D


Saya belakangan ini mengikuti perkuliahan, salah satunya tentang pemodelan sistem. Ya, latar belakang pendidikan saya adalah teknik industri, jadi berbicara tentang sistem dan model adalah salah satu kompetensi yang harus saya kuasai. Di pemodelan sistem ini, kami diberi tugas untuk memahami mengenai pemodelan sistem kasus Lubrication Oil Division (LOD).

Jadi, LOD merupakan sebuah divisi dari sebuah perusahaan yang juga merupakan bagian dari sistem manufaktur perusahaan tersebut yang mengelola berbagai macam minyak pelumas dan gemuk. Masalah dimulai ketika auditor internal perusahaan memberikan laporan kepada Vice President of Finance bahwa biaya inventori di bagian LOD tersebut membengkak tinggi. Hal ini akibat dari turn over persediaan yang semula ditargetkan oleh perusahaan sebanyak 24 kali, tetapi realita di lapangan hanya terjadi 12 kali. 


Sebagaimana yang kita tahu, perilaku inventori itu seperti mata gergaji. Ketika stok masuk gudang, persedian sangat tinggi, semakin hari semakin sedikit hingga habis. Ketika habis, gudang diisi lagi yang kemudian berkurang hingga habis. Demikian seterusnya, itulah yang disebut turn over.

Dengan jumlah turn over yang kecil, maka tinggi gigi menjadi sangat besar. Demikian pula, ketika jumlah turn over diturunkan, tinggi gigi tidak menjadi tidak terlalu tinggi. Dengan keinginan dari Vice President of Finance yang harus menurunkan tinggi gigi, yang kemudian disebut stock replenishment, maka konsekuensinya biaya dan setup menjadi tinggi. Hal ini karena setiap masuknya barang ke gudang harus setup dulu. Dan juga, dengan turunnya stock replenishment tersebut, bisa jadi berpengaruh pada kepuasan konsumen.

Sehingga, dengan tujuan menurunkan biaya operasi bagaimana LOD bisa menentukan tinggi replenishment dan jumlah gigi yang optimal (cut off).

Dengan dua kali pengerjaan aproksimasi nantinya akan diperoleh model matematis total biaya yang optimal. Pada aproksimasi pertama, kita hanya mencari biaya total annual relevant cost dengan menggunakan nilai cutoff fixed, yaitu 12. Dan dari fungsi total relevant cost nantinya bisa dicari nilai replenishment dalam notasi Q.


Setelah nilai tersebut ditemukan, baru kita mencari total cost dengan mempertimbangkan jumlah gigi/cutoff (L). Sehingga untuk kasus LOD, nilai optimal diperoleh pada titik cutoff 20 dan stock replenishment 60 batch.

Bingung mengenai apa yang saya tulis di sini? Sekali lagi, anggap saja ini catatan pribadi saya yang saya titip di blog saya sendiri. Jika ada yang memerlukan silakan diambil, tapi ingat jangan copy paste.

Sebenarnya apa sih intinya saya menulis dari atas sampai bawah tapi kebanyakan dari Anda tidak paham? Saya hanya mau bilang bahwa berteori itu tidak mudah. Bukankah hal-hal yang saya sampaikan di atas sebatas teori? Dan itu pun membuat kepala menjadi pusing. Jadi, jika ada orang yang mengatakan "Ah, itu kan cuma teori. teori itu mudah, prakteknya yang susah." Berarti sudah saatnya dia ikut kuliah biar tahu bagaimana rasanya pusing karena teori. Mengenai bagaimana hubungan yang harmonis mengenai teori dan praktek, silakan baca di postingan yang terdahulu mengenai usaha konfeksi senior saya. :D