Header Ads

Teroris itu Menciptakan Ketakutan

tujuan teroris itu apa sih, latar belakang terorisme, sejarah terorisme, sejarah terorisme indonesia, sejarah terorisme di indonesia, perkembangan terorisme
Dulu saya pernah membuat postingan mengenai setiap dari kita bisa menjadi teroris. Hal ini mengingat pengertian dari terorisme adalah tindakan menimbulkan ketakutan dan teroris adalah orang yang melakukan aksi teror atau yang menimbulkan ketakutan itu sendiri. Tujuan terorisme bukanlah membunuh atau merusak, melainkan menciptakan ketakutan itu sendiri. Pemberitaan yang overdosis telah meneror kita sebagai Bangsa Indonesia, termasuk saya. Teror yang terjadi pada diri saya adalah saya ditangkap dan dibunuh oleh pihak yang katanya berkompeten.


Kita ingat dengan beberapa kasus yang terjadi, banyak penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 dan berujung kematian. Banyak dari mereka tidak mengalami masa persidangan karena telah meninggal. Didukung dengan bukti-bukti yang katanya tidak masuk akal. Pemberitaan mengenai penangkapan itu pun selalu menjadi berita besar. Seolah-olah Indonesia adalah sebenar-benarnya sarang teroris.

Ketakutan saya sangat terasa ketika saya bekerja di Solo beberapa waktu lalu. Seringkali berita mengenai penangkapan terduga teroris dan kasus terorisme terjadi di Solo. Saya di Solo tinggal di kost, bukan di tempat saudara. Sebagaimana kehidupan kos di sana, individualistis memang lebih terasa. Bisa jadi anak kos tidak mengenal dengan warga sekitar. Saya pun demikian, hanya satu dua dari warga yang saya kenal. Dan mereka tentu tidak mengenal saya. Jika saya tiba-tiba ditangkap, paling-paling mereka hanya akan berkata, "O, ternyata orang itu teroris", begitu saja.

Selama di Solo saya memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar untuk beristirahat karena lelah bekerja. Jika pun saya keluar untuk sekedar mencari udara segar atau untuk acara apa, saya selalu sendiri. Yah, maklum LDR alias lungo dewe rapopo 😁. Di dalam kamar saya ada raspberry pi, yang bagi sebagian orang yang tidak tahu, dianggap rangkaian elektronik mencurigakan. Saya pun sering mendapat paket semisal hasil berbelanja dari marketplace atau hadiah giveaway. Didukung dengan penampilan saya yang sebenarnya santai tapi memelihara jenggot. Lengkap sudah jika saya mau ditangkap, gerak gerik dan barang-barang di kamar saya bisa jadi alat bukti. Jika memang terjadi, begitu menyedihkannya diri saya.

Sistem di Indonesia telah membentuk diri kita sebagai teroris. Tujuan dari teroris yang membuat orang-orang takut telah tercapai tanpa harus susah-susah menghancurkan bangunan atau membunuh orang. Paranoid dari lembaga pengaman pun justru menciptakan teror bagi masyarakat. Terlepas dari apakah terorisme ini adalah by design atau tidak tetapi masyarakat telah terteror dan merasa takut. Bisa jadi bukan hanya saya yang mengalami kekhawatiran ini. Dan bisa jadi karena hal-hal ini semua, kita menjadi takut untuk pergi atau untuk berbuat sesuatu.

Sudah saatnya, hentikan pemberitaan yang overdosis mengenai teror dan terorisme. Dengan tidak ada pemberitaan yang masif, maka si teroris seolah-olah dikacangin dan harus berpikir ulang bagaimana menciptakan ketakutan di tengah masyarakat. Jika tidak, sebenarnya kitalah teroris itu sebenarnya. Dan kita adalah korban selanjutnya.😢


=====
Gambar: kamar kos saya yang hancur gara-gara kucing bukan karena bom 😁