Header Ads

Ada Kehidupan di Pasar Tradisional

Di pekan kesembilan belas Liga Blogger Indonesia, admin melempar tema yang buat saya tidak terlalu sulit. Tema tentang pasar tradisional buat saya cukup ringan mengingat dalam beberapa hari ke belakang ini aktivitas saya cukup dramatis dan melelahkan. Saya pernah sih menulis postingan mengenai pasar tradisional, pun di kompasianana (meski koleksi postingan saya di sana masih sangat sedikit).

Ada Kehidupan di Pasar Tradisional

Kapan terakhir kali ke pasar tradisional? Emm, saya lupa, mungkin beberapa minggu atau sekitar dua-tiga bulan yang lalu. Kenapa lupa? karena memang beberapa waktu terakhir ini kebutuhan rumah/dapur lebih banyak membeli dari mas/mbak pedagang sayur keliling. Mungkin (saya agak lupa) saya terakhir kali ke pasar tradisional untuk membeli jajanan pasar sekitar dua minggu yang lalu.

Sekedar tahu saja, meski saya lelaki, tetapi sering lho berbelanja di pasar tradisional. Meski ya jangkauan saya di penjual yang itu-itu saja, yang sudah saya kenal karena sering ke sana. Misal kalau berbelanja sayuran ke mbak yang itu, kalau membeli ayam ke ibu yang itu, kalau membeli ikan air tawar ke masnya yang itu, kalau membeli beras ke mbak yang itu, dan sebagainya.

Secara geografis saya berada di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, jadi ya saja berbelanja di Pasar Tempel. Ada sih pasar yang lebih dekat, yaitu Pasar Ngablak di Kecamatan Turi, tetapi saya seringnya hanya membeli jajanan saja di sana. Untuk pasar yang lain, sesekali saja lah dan saya tidak hafal los-losnya.

Sering dan teramat sering saya dan teman saya (pemilik warung LDR) membicarakan kehidupan pasar tradisional. Untuk kebutuhan warungnya, ia memang sering berbelanja di pasar tradisional. Pasar tradisional adalah kehidupan. Di sana bukan hanya aktivitas jual beli melainkan ada kehidupan yang dibangun antar sesama pedagang dan antara pedagang dan pembeli.

Di pasar tradisional, adalah suatu hal yang teramat lumrah ketika saling menanyakan kabar, menanyakan kabar keluarga, kok lama tidak kelihatan, dan sebagainya. Ada interaksi yang dibangun bukan hanya membeli berapa dan harganya berapa. Sisi kekeluargaan yang dibangun bisa jadi tidak ada di dalam toko modern. Pernah kejadian, keluarga saya karena sudah saking dekatnya dengan padagang di pasar tradisional, sampai berhutang sekian juta rupiah untuk membeli ayam potong untuk hajatan. Seselesainya hajatan, baru kami membayarnya dan pembayaran yang sekian juta itu juga dilakukan di pasar. Sesuatu yang hampir tida mungkin dilakukan di pasar modern.

Jika ada pedagang (dan juga orang yang terbiasa berbelanja) di pasar yang mengadakan hajatan, orang-orang pasar biasa ikut berkunjung (kondangan). Begitu pula jika mendapat musibah (meninggal dunia), mereka juga akan melayat. Pasar tradisional bisa disebut kampung baru yang ada karena interaksi yang selalu dibangun bersama-sama. Di pasar tradisional kita pun bisa menambah saudara.

Adalah suatu hal yang konyol, ketika pernah ada seorang pejabat tingkat kabupaten (salah satu kabupaten di DIY) menyatakan kalau dia baru sekali menginjakkan kaki di pasar tradisional. Itu pun ketika ia melakukan sidak. Dan beliau ini ditugasi untuk penanggung jawab akan revitalisasi pasar tradisional. Lha, ke pasar tradisional saja tidak pernah kok ditugasi untuk revitaslisasi. Sebuah ketakutan saya dan teman-teman, jangan-jangan mereka hanya berpikir bahwa pasar itu hanya tempat transaksi jual-beli. Sehingga mereka hanya main bangun sana bangun sini tanpa mempertimbangkan kehidupan dan interaksi yang ada di pasar. Saran saya sih, bagi pejabat baik yang urusannya dengan pasar ataupun tidak, sering-sering berbelanja dan berinteraksi dengan kehidupan pasar. Bukan hanya saat sidak tetapi memang membangun interaksi dengan pedagang dan pembeli di sana.

Pasar tradisional memang harus direvitalisasi. Tetapi sebuah harapan besar jangan sampai menghilangkan sisi kemanusiaan di dalamnya. Kekumuhan, keruwetan, macet yang dibuat, dan sisi negatif lainnya tentu harus dipecaahkan. Tetapi sisi kehidupan yang dibangun juga harus dipertahankan. Jangan sampai kita hanya berbicara mengenai uang. Karena persaudaraan sesungguhnya memiliki nilai yang berbeda daripada uang. 😊