Header Ads

Sertifikasi TRIZ, Hadiah Terakhir Dari Bapak

Membaca instastory-nya Pungky yang mengatakan kalau dia sekeluarga mengadakan giveaway di blog sujiwo, rasanya pengen misuh. Bagaimana tidak, hadiah smartphone Huawei Nova 3i siapa yang tidak tertarik? Pas saya juga lagi butuh kamera untuk mendukung penelitian yang saat ini sedang saya kerjakan. Tapi yang bikin misuh adalah, karena sepanjang tahun 2018 hingga bulan puasa kemarin saya banyak kejadian menarik tetapi tidak terekam dalam jepretan kamera smartphone. Selama setengah tahun lebih saya memang off dari segala narsisme termasuk update blogpost. Ada foto bagus tapi itu dari kamera DLSR panitia penyelenggara. Ada foto satu hasil jepretan kamera smartphone tapi hasilnya jelek. Tahu sendiri kan bedanya memfoto teman dan difotoin teman?

Dr Yeoh menjelaskan materi tentang TRIZ
Dr Yeoh menjelaskan materi tentang TRIZ

Okelah, saya cerita tentang foto yang kelihatannya biasa saja tapi untuk saya penuh perjuangan. Sebenarnya beberapa bulan saya ragu ingin menuliskan ini, tapi sepertinya antara mau dan tidak mau saya tetap menulis. Foto yang saya tampilkan adalah foto saat TRIZ training and certification dari MyTRIZ (Asosiasi TRIZ Malaysia). Sekilas saja, TRIZ adalah teori pemecahan masalah dengan berdasarkan cara berpikir sistematis. Untuk penjelasan tentang TRIZ, ada di postingan saya yang lain.

Setelah menunggu dan mengejar cukup lama, akhirnya pada akhir 2017 saya bisa mengikuti training dan sertifikasi level 1. Berbekal sertifikat level 1 tersebut, pada 23-24 Januari 2018 saya bisa mengikuti training dan sertifikasi practitioner level 2. Foto pertama adalah Dr Teong San Yeoh dari InnoPlanet dan MyTRIZ dan bekerja di Intel Singapore sebagai instructor. Sebenarnya masih ada tiga hari berikutnya untuk instructor training level 1, tapi berhubung dana yang saya miliki terbatas, saya tidak mengikutinya.

Setelah training dilakukan selama dua hari, di hari kedua selepas shalat asar dilakukan tes sertifikasi. Baru lima menit tes dimulai, ponsel saya bergetar, ibu menelpon, kondisi bapak katanya memburuk, saya disuruh pulang. Bapak sudah lima tahun terkena stroke. Saya lanjutkan mengerjakan tes selama lima belas menit saja, padahal waktu yang diberikan adalah satu jam. Selesai saya mengerjakan tes, saya bertanya kepada Dr Yeoh apakah tes hanya ini saja? Jika iya, saya mau pulang. Kata beliau "Ya, tesnya hanya ini saja".

Saya pun pulang, ternyata pas saya sampai di rumah bapak sudah dibawa ke rumah sakit. Saya pun melaju ke rumah sakit, sejam kemudian bapak menghembuskan nafas terakhirnya, innalillahi wainnailaihi rajiun.

Sekitar jam 10 malam selesai perawatan dan menshalati jenazah bapak, saya ditelpon sama Dr. Eng. Risdiyono (Dosen dan presiden InTRIZ/Asosiasi TRIZ Indonesia) menelpon saya katanya tadi sore beliau mencari saya. Beliau menanyakan ke Dr. Yeoh saya dimana, Dr. Yeoh menjawab kalau Farid sudah pulang. Beliau menelpon guna menanyakan apakah benar saya hanya ikut training practitioner yang dua hari saja? Mengapa saya tidak ikut training untuk instructor yang tiga hari berikutnya? Saya jawab, yang pertama karena saya tidak cukup biaya untuk ikut dan yang kedua karena bapak meninggal dunia sore tadi. Seketika beliau mengucapkan bela sungkawa.

Dr Eng Ho menjelaskan materi TRIZ for teaching and parenting

Foto kedua adalah foto training non sertifikasi yaitu TRIZ for teaching and parenting. Masih ada hubungannya dengan dua training sebelumnya tapi lebih ke isu pendidikan dan parenting. Bagaimana berpikir sistematis dalam belajar dan mengembangkan pendidikan. Isu pendidikan yang mensetarakan antara anak yang satu dengan anak yang lain meskipun sebenarnya kompetensi mereka berbeda-beda, ternyata bukan hanya Indonesia saja yang memiliki. Di malaysia, atau bahkan di belahan dunia yang lain juga mengalami meski dengan porsi yang berbeda-beda. Di sini salah satunya kita belajar apa itu psychological inertia.

Training diselenggarakan seminggu sebelum bulan Ramadhan. Training kali ini diampu oleh Dr. Tan Eng Ho dari MyTRIZ beserta istri. Dan sialnya acara ini bertepatan pada peringatan seratus hari meninggalnya bapak. Di saat saudara-saudara berkumpul di rumah, saya malah pergi ikut training. Beruntung malam harinya saya tetap bisa berkumpul dengan keluarga.

Training dan sertifikasi buat saya semacam hadiah terakhir dari bapak. Tantangan saya ke depan adalah bagaimana tidak menyia-nyiakan training yang sudah saya ikuti, bagaimana mengimplementasikan ilmu yang sudah saya peroleh di sana. Semoga ini awal dari perjalanan kehidupan saya ke depan. Untuk beberapa materi tentang TRIZ beberapa sudah saya sampaikan di blogpost, semoga kedepan bisa konsisten menuliskannya.

Pada saat training, saya tidak ada niatan untuk selfie tapi hanya foto-foto acara dan materi saja. Sejak meninggalnya bapak, saya merasa limbung dan tidak tahu mau bagaimana. Saya menghilang dari blogpost. Saya kehilangan orientasi saya ngeblog. Kembali muncul pertanyaan pada diri saya sendiri "buat apa sih ngeblog?" dan saya tidak bisa menjawabnya. Saya tidak ada semangat lagi untuk membuat tulisan di blog atau pun menghadiri acara yang kemudian saya tulis di blog. Hasrat untuk foto sana sini pun hilang, makanya selama beberapa bulan saya tidak punya stok foto. Baru di akhir Bulan Ramadhan keinginan itu muncul lagi. Selepas lebaran saya baru kemudian mau menulis lagi di blog. Karena saya merasa ada sesuatu yang harus saya tulis, yaitu menyebarkan virus TRIZ meskipun itu hanya sangat sedikit. Dan saatnya mulai foto-foto dan mulai ngeblog lagi meskipun tidak seperti dahulu lagi.

Life must go on
. Mohon doanya, di tiga bulan terakhir 2018 ini saya sedang melakukan penelitian dan masih ada kaitannya dengan TRIZ. Semoga Jiwo mau memberi satu smartphone kerennya itu, biar bisa mendukung peneltian saya ini. Smartphone Huawei Nova 3i yang mau dibagi itu memiliki kamera yang diperkuat AI dengan storage 128 GB (paling besar di kelas smartphone mid-end) saya rasa ini luar biasa. Mengingat saya memang butuh memfoto dan merekam setiap momen dari objek yang saya teliti. Smartphone ini juga desainnya keren, tentu memberi motivasi tersendiri ketika memotret atau merekam. Kalau terkait GPU Turbo untuk kemampuan gaming saya sih tidak terlalu memprioritaskan karena saya jarang bahkan hampir tidak pernah nge-game. Yang pasti dengan kemampuan ini, smartphone tersebut tidak nge-lag ketika digunakan untuk mengejar pekerjaan.  Tidak terlalu berharap tapi berdoa saja semoga saya kebagian, hehe...