Apa tradisi menjelang bulan puasa di tempat Anda? Mungkin nyekar atau ziarah kubur sudah menjadi keumuman di sebagian daerah di Indonesia. Di sebagian daerah DIY-Jateng, "sadranan" adalah sebuah agenda rutin menjelang memasuki bulan puasa. Intinya sama, dalam rangka birrul walidain, mendoakan para orang tua serta leluhur yang telah berpulang. Acaranya bermacam-macam, ada ziarah kubur, tahlil di makam atau masjid atau keduanya, sedekah makanan, dan acara lain. Di sebagian daerah, sadranan bisa jadi lebih meriah daripada lebaran. Mereka yang merantau di hari itu mudik untuk bisa ikut berdoa bersama.


sadranan dan kirab bregada rakyat

Ada acara yang berbeda dan spesial dengan acara sadranan di kampung kami, pada 11 April 2021 yang lalu. Kalau biasanya hanya berupa tahlil dan pengajian di masjid serta pembuatan sedekah berupa makanan, kali ini dibalut dengan budaya. Meskipun meriah, tetapi karena masih dalam suasana pandemi covid-19, maka acara ini hanya diikuti oleh warga kampung saja tanpa adanya warga dari kampung sebelah atau pun keluarga dari perantauan. Pun semua warga yang hadir harus memakai masker.


Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kabupaten Sleman, Bpk Aji Wulantoro, dari Polsek Tempel, Lurah Kalurahan Merdikorejo, dan beberapa tamu undangan lain. Hanya beliau-beliau pihak dari luar padukuhan, selebihnya diisi oleh warga kampung. Karena acara kali ini spesial menampilkan budaya, maka panitia,  sebagian warga, dan sebagian tamu undangan mengenakan pakaian jawa jangkep gagrak jogja, khususnya para pria mengenakan surjan lurik lengkap dengan jarit dan iket/blangkon.


Baca juga: Pilihan Lurah di Kabupaten Sleman dengan e-Voting


Di acara sadranan kali ini, masyarakat mencoba mengangkat sesuatu dari kampung yang menjadi ciri khas. "Apa ya?", "Kalau cikal bakal padukuhan, sejauh ini belum ada kajiannya". Akhirnya kami teringat kalau cikal bakal salak pondoh adalah di kampung ini. Kala itu, Mbah Partodimejo selaku jogoboyo pernah diberi hadiah berupa bibit salak pondoh oleh Residen Belanda yang masa tugasnya telah berakhir. Karena kejadian itu, kini salak pondoh bisa berkembang sampai pelosok negeri. Hal ini yang akan diangkat dalam acara sadranan.


Acara dimulai dengan kirab bregada rakyat Soka Waneng Yudha. Kirab dilakukan untuk menjemput tumpeng dan sedekah hasil bumi dari kediaman kepala dukuh ke lokasi acara sadranan yaitu di masjid. Kirab dilanjutkan menjemput replika salak pondoh dari Rumah alm Simbah Muhadi Winarto, putra Mbah Partodimejo, ke masjid. 



Sesampainya kirab bregada yang membawa replika salak pondoh di masjid, langsung dipentaskan aksi treatikal dengan tema "Nggugah Budaya, Memala Sirna". Maksudnya, dengan kita menampilkan pentas budaya ini sebagai langkah semoga pandemi ini segera berakhir. Juga maksud lain adalah dengan hadirnya salak pondoh di jaman itu, kemakmuran masyarakat di sekitar dapat terwujud. Dalam waktu sekitar lima belas menit, treatikal menampilkan bagaimana kejadian waktu itu residen Belanda memberikan hadiah kepada jogoboyo. 


Baca juga: Melahirkan generasi emas melalui "Lentera"


Selesai acara kirab bregada dan aksi treatikal, acara dilanjutkan dengan acara inti sadranan yaitu pengajian dan tahlil. Ada yang menarik dari isi pengajian kali ini, mengingat sadranan ini adalah kegiatan birrul walidain berbalut budaya. Terlebih kita dalam hari itu juga mengangkat budaya jawa, pakaian surjan jangkep pun bagian dari budaya jawa. 


Beliau ustadz dengan pakaian jawa lengkap juga, menyampaikan bahwa dalam hati kita harus bisa membedakan mana sisi yang menjadi bagian dari ibadah dan mana yang menjadi bagian adat. Jangan sampai adat dan budaya menjadi ibadah, dimana jika kita tidak menjalankan merasa dosa. Dan jangan pula ibadah justru "hanya" dijadikan adat. Ibadah baik itu ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah adalah semua perintah yang berasal dari Tuhan. Sedangkan adat dan budaya adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia. Jadi kita harus bisa membedakan dengan jelas batas di antara keduanya.


Acara ditutup dengan tahlil memanjatkan doa untuk para orang tua dan leluhur. Sedekah hasil bumi pun segera diperebutkan oleh ibu-ibu seketika setelah tahlil selesai. Tumpeng dan kelengkapannya juga segera disantap. Semoga ini adalah awal dari aktivitas budaya di sini dan nantinya bisa melahirkan desa budaya mandiri. Dan terlebih kita tidak meninggalkan aktivitas mendoakan para orang tua dan leluhur.