Header Ads

Sleman, The Living Culture Part of Jogja

arti sleman sembada, indonesia, kabupaten sleman, logo jogja, logo Sleman, logo sleman hitam putih, logo sleman sembada, logo sleman vector, sleman sembada, wisata sleman, agenda sleman, Entah bentuk kelatahan atau kah memang kebutuhan, setiap daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten di Indonesia melakukan rebranding. Hal ini dilakukan agar daerah-daerah dapat meraih "pasar" yang diinginkan. Tidak terkecuali dengan Kabupaten Sleman, di hari jadi ke 101 yang jatuh pada bulan Mei 2017 lalu, diluncurkanlah logo dan tagline baru, Sleman the living culture part of Jogja.

Sekilas memang sangat mirip dengan logo Jogja (yang merupakan branding DIY) dengan warna merah dan font yang sedemikian sama. Perlu kita ingat mengenai logo Daerah Istimewa Yogyakarta (saya tidak perlu menuliskan kata "provinsi" karena terkait dengan UU keistimewaan), font yang digunakan adalah huruf kecil yang menggambarkan egaliterisme, kesederajatan, dan persaudaraan. Warna merah bata sebagai lambang keraton yang tidak terlepas dari DIY itu sendiri serta spirit keberanian mewarnai zaman baru dengan berbekal masa lalu. Serta mengenai bentuk biji dan daun yang menggambarkan filosofi cokro manggilingan: wiji wutuh, wutah pecah, pecah tuwuh, pecah tuwuh, dadi wiji. Semoga memang demikian yang nantinya juga mengakar ke masyarakat Sleman yang merupakan bagian dari DIY.

Sleman, The Living Culture Part of Jogja

Bentuk logo merupakan tracing dari ikon yang Sleman banget yaitu Gunung Merapi dan Candi Prambanan. Tracing ini juga sangat mirip dengan icon trace hasil pengembangan logo DIY.

Pemilihan kalimat "The living culture" dari sudut pandang saya (karena memang saya tidak tahu pasti bagaimana FGD berlangsung dalam pemilihan logo ini) karena memang Sleman beberapa tahun terakhir ini menawarkan kehidupan masyarakat yang "ndeso" kepada wisatawan. Di sisi lain, menghadapi perkembangan pembangunan yang begitu pesat di DIY khususnya di Kabupaten Sleman, jangan sampai kehidupan "ndeso" ini hilang. Bangaimana sawah-sawah, sumber air, sifat kegotongroyongan masyarakat, dan lain sebagainya jangan sampai hilang. Istilah sederhananya, orang jawa jangan sampai hilang jawa-nya.

Sebenarnya saya pribadi masih kurang puas dengan keberadaan logo yang ada sekarang. Terlebih slogan Sleman Sembada sebagai slogan pembangunan desa di Sleman sejak 1991 masih sangat kuat di benak masyarakat. Serta terkait logo yang plek ketiplek dengan penyesuaian saja dari logo Jogja. Dan pembaharuan ini saya rasa tidak banyak yang mengetahui publikasinya. Karena tidak banyak yang mengetahui, tidak banyak pula yang "menggugat" sebagaimana logo TOGUA yang pernah diluncurkan oleh Hermawan Kertajasa harus didesain ulang hingga muncullah logo Jogja istimewa yang ada sekarang.

Semoga dengan logo baru ini, bisa memberi manfaat bagi masyarakat Sleman. Semoga saya dan masyarakat Sleman yang lain bisa memberi sumbangsing bagi pembangunan Sleman. :)