Header Ads

Mengenal Psychological Inertia

Dulu, atau mungkin sampai sekarang pun, apakah kita menulis selalu diawali dengan "Pada suatu hari...", "Seiring perkembangan teknologi...", atau "Pada era globalisasi ini..."? Jika Anda pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian banyak dari teman dan saudara kita di luar sana yang mengalami, pun saya pernah demikian hehe. Kita sudah terbiasa dengan itu dan untuk merubahnya dirasa cukup sulit. 

Mengenal pengertian apa itu Psychological Inertia

Inertia atau inersia kalau dalam kbbi artinya kelembaman atau lamban, malas, tidak tangkas. Inersia adalah sikap "nyaman" yang mana kita tidak mau merubah kondisi tersebut. Biasanya istilah lembam atau inersia ini banyak digunakan dalam fenomena fisika. Rekan-rekan dan adik-adik yang ada di bangku SLTA mungkin tidak asing dengan istilah ini.

Bagaimana jika "kenyamanan" ini ada dalam ranah psikologis? Psychological Inertia adalah posisi dimana pikiran kita sudah merasa "nyaman" dengan kebiasaan-kebiasaan yang biasa terjadi. Kita sudah enggan untuk merubah kebiasaan terlebih terkait pola pikir. Ketika rasa nyaman itu sudah dirasa, kita akan menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan dan usulan untuk keluar dari kenyaman itu. Ciri-ciri bahwa kita telah terjebak dalam Psychological Inertia adalah kita akan mengatakan "biasanya begini..."

Coba lanjutkan urutan huruf-huruf ini (mungkin Anda sudah pernah belajar ini): 

J, F, M, A, M, J, J, A, ... , .... , .... , .... .

Kita bisa saja menjawab A, M, J, M, atau M, M, J, J, atau jawaban sejenis. Bagaimana jika jawabannya adalah: 

S, O, N, D

Kok bisa? Itu adalah urutan inisial bulan dalam setahun. Kita (bagi yang belum tahu sebelumnya) akan terjebak dalam sekedar urutan huruf karena biasanya ketika kita psikotes seperti itu. Tapi jika kita mau melebarkan pandangan, urutan tersebut bisa terkait urutan bulan.

Mengenal pengertian apa itu Psychological Inertia

Jika kita melihat kaleng biskuit Khong Guan atau kaleng wafer Tango di meja, (dulu sih) kita akan berpikir bahwa isinya adalah benar apa seperti gambar di kalengnya. Ternyata ekspektasi kita terlalu tinggi, isinya rengginan atau peyek kacang. Itulah Psychological Inertia, kita berbicara atas sesuatu berdasarkan biasanya. Tetapi sekarang karena pengalaman, kita tidak bisa seketika mengatakan bahwa isinya sama dengan gambar luar, tapi kita sudah curiga dulu adalah rengginan, hehe.

Saya sampai sekarang merasa menyesal dengan sikap saya atas usulan teman saya yang kini saya rasa benar bagus. Kita sedang punya masalah di organisasi kampung, ada rekan yang mengusulkan begini begitu. Tetapi waktu itu saya sempat membantahnya karena saya merasa "biasanya" usulan itu selalu tidak berhasil. Saya terjebak dengan bayangan "biasanya begini" sehingga saya takut gagal karena hal yang biasanya. Jika saja usulan rekan saya itu kita jalankan, bisa jadi itu menjadi budaya yang baik di kemudian hari. Kita seringkali takut gagal hanya karena tidak berjalan seperti biasanya.

Berbicara tentang psychological inertia bisa panjang, tetapi edisi ini hanya sekadar pengenalan. Lain kali kita bahas lebih panjang lagi, InsyaAllah. Jika Anda dari bidang psikologi atau dari forensik, silakan kalau mau menjelaskan lebih dalam lagi tentang apa itu Psychological Inertia. Kalau udah terlalu nyaman terus ditinggal jadi sakit, itu termasuk inertia juga bukan ya? *baper mode on* 😂