Header Ads

Menguak Value Produk Indonesia

Bisnis digital dan e-commerce dua hal yang sedang naik daun seiring dengan teknologi internet yang semakin berkembang. Meskipun ada beberapa titik di Indonesia yang belum tersentuh oleh internet bahkan di kecepatan minimal, tetapi kehidupan e-commerce Indonesia sudah teramat sangat ramai. Belanja di dunia maya menjadi hal wajib, meski hanya sekedar melihat-lihat, cek harga, cek spek barang, atau aktivitas berbelanja itu sendiri. Bahkan ada beberapa rekan yang berbisnis dengan memanfaatkan sosial media dalam pemasarannya dan memang hasilnya luar biasa.

Dari total produk yang dijual online di Indonesia saat ini, 93-94% merupakan produk impor & produk lokal hanya 6-7%. Ada apa ini, di sisi mana kesalahan terjadi? Apakah dari sisi produk atau dari sisi pelanggan?

Dari nilai tersebut di atas, satu pertanyaan dari saya, apakah termasuk produk elektronik dan otomotif beserta komponennya? Okelah kalau untuk produk elektronik dan otomotif kita memang harus mengakui bahwa produk luar lebih memiliki nama. Meskipun produk elektronik dan otomotif kita sebenarnya ada juga yang sudah bisa mengungguli produk asing tetapi secara umum kita harus mengakui kalah. Tetapi untuk produk fashion, handmade, craft atau kerajinan, kuliner, furnitur, dan produk-produk yang bisa kita produksi sendiri apakah kita benar-benar kalah? Untuk selanjutnya yang akan kita bahas kebawah adalah produk-produk fashion, handmade, craft, dan kawan-kawannya saja.

https://qlapa.com/item/sepatu-casual-dr-becco-panoz-denim-wash-coklat-muda-tan/drbeccoofficial/126285
Pinjam foto dari Qlapa, klik gambar untuk masuk ke tokonya
Value atau nilai dari produk berada pada dua aspek, pertama performansi produk dan yang kedua dari harga. Performansi produk adalah hal yang dijual dari produk itu sendiri. Dahulu kala, performansi sepasang sepatu atau sandal hanya sekadar sebagai alas kaki. Akan tetapi di era sekarang tidak mungkin hanya sekadar alas kaki tetapi sebuah mode fashion. Silakan cek di rak sepatu dan sandal kita masing-masing, ada berapa pasang sepatu dan sandal yang terpajang di sana? Minimal satu pasang sepatu untuk kerja atau sekolah, satu pasang sepatu untuk have fun, satu sandal untuk sehari-hari. Bahkan untuk wanita pasti berpasang-pasang sandal dan sepatu yang penggunaannya bukan hanya sesuai acara tetapi juga warna baju, mood, teman hang out, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan baju, tas, scarf, dan produk-produk keseharian lainnya. Tidak mungkin kan kita hanya punya tiga pasang baju yang kata orang jawa mbah ringgo alias kumbah garing dinggo atau dicuci begitu kering langsung dipakai. Itu mah performansi produk beratus-ratus tahun silam.

Fashion selalu terkait dengan eksklusivitas, karena setiap kita unik maka pakaian kita pun selalu unik. Setiap dari kita tidak mau kalau ketemu dengan orang lain ternyata dia memakai pakaian yang sama dengan kita. Bahkan jika perlu, kita mendesain sendiri dari motif hingga bentuk bajunya. Sehingga yang memiliki pakaian tersebut memang "saya" sendiri.

Teramat sangat banyak produk yang secara style bukan hanya tidak kalah tetapi malah justru mengalahkan produk impor. Sangat banyak produk Indonesia dengan berbagai macam motif, corak, dan potongannya. Kita memiliki batik dengan ribuan motif yang setiap harinya selalu bertambah. Begitu pula dengan tenun yang mana setiap pula memiliki kekhasan corak dan selalu berkembang. Dengan padu padan yang hampir mustahil untuk sama antara pengguna satu dengan lainnya.

Yang terjadi selama ini adalah kita membeli produk hasil produksi masal pabrik, bukan produk hasil handmade, sehingga tanpa sengaja bertemu dengan orang yang pakainnya mirip atau bahkan plek ketiplek sama. Kebanyakan produk pabrik mengejar pasar secara masal, dipasarkan di pasar yang lokasinya berdekatan, dan pabrik lain memproduksi yang agak-agak mirip dengan produk tersebut. Produk pabrik bukan hanya produk impor, produk dalam negeri pun demikian, dan malah seperti produk impor.

Bagaimana dengan kualitas keawetannya? Produk handmade di belahan bumi manapun di dunia ini sudah pasti diakui kualitas keawetannya. Karena di sana ada unsur human touch, dimana jari-jari tangan adalah sebuah anugerah Tuhan yang tidak tergantikan oleh teknologi apa pun. Seolah-olah sentuhan jari manusia menjadi sebuah garansi tak tertulis bahwa produk tersebut awet.

Kesimpulan pertama terkait dengan performansi, produk-produk Indonesia tidak kalah bahkan justru mengalahkan produk dari luar negeri. Dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia disertai dengan sumber daya manusia yang semakin hari semakin baik, motif, corak, dan gaya produk bisa terus bertambah dan semakin baik.

https://qlapa.com/item/lampu-meja-coco-q/lilylampart/124850
Pinjam foto lampu meja dari Qlapa, klik gambar untuk masuk ke tokonya
Bagaimana dengan harga? Jika kita dihadapkan pada sepasang sepatu pada waktu yang berbeda dengan harga yang berbeda. Di waktu pertama sepatu tersebut dihargai dua puluh ribu rupiah, di waktu berikutnya dengan sepatu yang sama dihargai dua ratus ribu rupiah, dan di hari terakhir dihargai dengan dua puluh juta rupiah, apa yang ada di benak kita? Kalau saya yang dihadapkan dengan kasus ini, saya akan mengira produk pada harga pertama adalah produk KW entah yang keberapa dengan kualitas yang ecek-ecek. Pokoknya semua komentar negatif akan keluar untuk men-judge produk ini. Sedangkan untuk produk ketiga dengan harga jutaan, saya akan berpikir bahwa produk ini produk yang bagus dengan kualitas baik, sayangnya uang saya tidak cukup untuk membelinya. Lalu saya mencari-cari kelemahan produk ini meskipun hanya mengada-ada. Pada produk kedua, dengan harga ratus ribuan saya akan mengatakan "wah kalau ini saya cocok", saya bisa membayarnya dan saya akan mendapatkan produk dengan kualitas yang sesuai dengan sejumlah uang yang sudah saya bayar.

Jadi, bukan mahal atau murah suatu produk yang menjadikan produk itu menarik perhatian pelanggan. Karena mahal dan murahnya produk adalah relatif tergantung kondisi keuangan masing-masing pelanggan. Tetapi harga yang beralasan atau reasonable adalah kunci. Produk handmade terlalu sayang dan kasihan kalau selalu dibanderol dengan harga yang sangat murah. Produk handmade bukan berada pada kelas murahan tetapi justru berada di kelas mahal. Hanya saja kita harus tahu berada di level mahal yang mana sehingga tidak terlalu mahal. Sejauh ini, produk-produk Indonesia sudah banyak yang harganya reasonable. Meski ada beberapa yang masih terjebak dengan bayangan produk lokal harus murah.

Secara umum, value atau nilai produk Indonesia berada pada sisi yang baik dan masih bisa terus naik. Produk Indonesia memiliki performansi yang baik serta harga yang reasonable. Sehingga sebenarnya kita rugi jika tidak menggunakan produk Indonesia itu sendiri.


Mungkin ada masalah di sisi distribusi informasi terkait indahnya dan baiknya produk Indonesia ke pelanggan. Adalah Qlapa.com sebagai "Rumahnya Produk Handmade Indonesia". Qlapa menghadirkan produk-produk handmade yang telah terkurasi sehingga kualitas ke-handmade-annya terjaga. Mengapa harus dikurasi? agar performansi sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas tetap terjaga. Jika tidak, bagaimana jika tiba-tiba yang hadir adalah produk masal pabrik dan tiba-tiba kita berpapasan dengan orang yang memakai produk yang sama, tentu bukan hanya kualitas dari produknya yang hancur, qlapa sebagai marketplace hancur, perajin yang memproduksi hancur, dan secara umum menghancurkan image produk handmade Indonesia. Harga yang dihadirkan di Qlapa juga reasonable, dengan hadirnya berbagai macam diskon, promo, dan cashback. Membicarakan produk handmade sama saja membicarakan Qlapa karena memang mereka hadir dengan nilai dan semangat yang sama.

Produk Indonesia belum merdeka dari gempuran produk impor? Mungkin yang perlu pertama kali dimerdekakan adalah image kita terhadap produk dalam negeri. Kitanya saja yang belum tahu bahwa value produk Indonesia tidak kalah bahkan mengalahkan produk impor. Jika kita masih mengira kalau produk dalam negeri bentuknya hanya begitu-begitu saja, tidak fashionable, serba KW, dan harganya selangit, mungkin kitanya saja yang kurang piknik. Mungkin kita terlalu sibuk perang dunia maya atau keasyikan jadi buzzer politik sehingga otak kita tahunya Indonesia itu seperti sinetron penuh peran antagonis. Kalau piknik saja tidak ada waktu, ada lah sedikit waktu untuk berselancar di dunia maya menikmati indahnya Indonesia, syukur mampir berbelanja di Qlapa, hehe.