Header Ads

Empat Pilar Bernegara (Part 1)

indonesia

dewasa ini, MPR RI begitu gencar mensosialisasikan empat pilar kehidupan bernegara. Binneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. hal ini adalah sebagai akibat dari lunturnya nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia dan negara merasa terancam akan paham-paham yang menurut negara bertentangan dengan jati diri Indonesia. sebagai contoh, fanatisme agama yang kuat di masyarakat dianggap ancaman serius bagi kehidupan bernegara. atau arus modernisasi dan globalisasi yang membuat masyarakat (mereka menyebut generasi muda) semakin kehilangan jiwa keindonesiaannya. lalu yang menjadi pertanyaan, Indonesia itu sebenarnya atau idealnya seperti apa? apakah dengan empat pilar tersebut bisa menjelaskan dan mengembalikan jati diri ke-Indonesia-an kita?


menurut saya, ada yang salah dalam kita membaca keempat pilar tersebut selama ini. mengapa salah? kita memberikan definisi atau maksud dari pilar-pilar tersebut hanya secara bahasa tanpa melihat secara sistem. pertama, binneka tunggal ika selalu diartikan dengan "walaupun berbeda-beda tapi tetap satu jua. sejak SD kita selalu memannainya seperti itu dan hingga kita tua pun pengertian itu masih sama. tidak bisa kita pungkiri bahwa bangsa kita adalah bangsa yang terdiri atas berbagai suku, adat, agama, bahasa, dan lain sebagainya yang mana satu dengan lainnya memiliki perbedaan. dan pada hakikatnya, manusia diciptakan berbeda-beda. kata salah seorang dosen, jangankan kehidupan berbangsa kita makan burjo (bubur kacang ijo) saja punya kebiasaan berbeda. ada yang makan secara murni begitu saja, ada yang ditambah susu, ada yang makan burjo sambil makan kerupuk, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. apalagi dalam kehidupan dan sistem yang lebih besar, pasti satu dan lainnya sangat berbeda.


kemudian yang cukup merisaukan adalah frase "tapi tetap satu jua". satu di sini sering kita memaknai dengan kata "tunggal". pada akibatnya, masyarakat akan terpenjara dalam penyataan "indonesia itu ya yang seperti ini" karena pengertian tunggal setiap orang berbeda-beda. perumpamaan yang bisa digunakan, ada tiga orang buta sedang menyentuh sebuah benda yang sama. satu orang mengatakan bahwa yang disentuh adalah pohon kelapa, sedangkan yang lain mengatakan bahwa yang disentuh adalah daun yang lebar, sedangkan yang ketiga mengatakan adalah tali yang kuat. dari sebuah benda yang sama, ketiganya menyatakan hal yang berbeda, mengapa? karena mereka hanya melihat dari satu perspektif saja. jika orang yang tidak buta melihatnya, akan mengatakan kalau itu adalah seekor gajah. apakah ketiga orang yang pertama salah? tidak juga, karena mereka melihat dari perspektif masing masing. orang pertama mengatakan itu adalah pohon kelapa karena yang dipengannya adalah kaki gajah, orang kedua mengatakan itu adalah selembar daun karena yang dipegangnya adalah daun telinga gajah, dan seutas tali yang dimaksud oleh orang ketiga adalah ekor gajah.


kemudian apa akibatnya jika perspektif yang demikian digunakan dalam mengartikan binneka tunggal ika? sama dengan ketiga orang di atas, masyarakat akan mengatakan kalau sistem yang dihadapinya sehari-hari adalah indonesia yang sebenarnya dan ideal. orang jawa mengatakan Indonesia yang benar dan baik itu seperti kehidupan orang jawa. demikian juga orang batak, dayak, papua, sunda, dan suku-suku lainnya akan mengatakan serupa. mereka tidak melihat Indonesia secara sistem dan melihat sebagai orang buta. sehingga, ketika mereka bertemu dengan kehidupan suku lainnya, akan terjadi pertentangan karena masing-masing dari mereka akan mengatakan "aku adalah Indonesia dan Indonesia adalah aku".


istilah yang serupa juga digunakan sebagai semboyan ASEAN, unity on diversity. kata "unity" lebih tepat digunakan daripada kata yang sering kita gunakan selama ini. unity dapat dimaknai dengan saling sinergis satu dengan lainnya, berbeda dengan kata kesatuan sebagai pemaknaan dari "tetap satu jua", dimana kata kesatuan menurut kamus besar bahasa indonesia adalah keesaan dan sifat tunggal. masyarakat harus diedukasi dan dibiasakan untuk memaknai Indonesia sebagai sebuah sistem yang terdiri atas berbagai elemen yang saling mendukung satu dengan lainnya, bukan lagi sifat tunggal karena akan terjebak pada pandangan tiga orang buta dalam menyentuh seekor gajah.


masyarakat pun harus diedukasi bukan hanya dengan "perbedaan itu baik", "perbedaan akan membawa kita kepada kedewasaan", "negara ini adalah negara demokrasi, jadi perbedaan adalah hal yang wajar" dan pernyataan-pernyataan lain berkaitan dengan perbedaan, tapi juga perlu pemahaman bahwa perbedaan yang ada adalah kekuatan Indonesia. ibarat badan manusia, diciptakan kepala, tangan, kaki, dan organ-organ yang saling berkaitan. bentuk badan, kaki, kepala, dan lain sebagainya berbeda-beda. jika memiliki bentuk yang sama, bukan manusia yang akan terbentuk, tapi sebuah bola karena dari sudut pandang manapun yang terlihat hanyalah bulat.


dilihat secara historis, binneka tunggal ika sebelum digunakan sebagai semboyan negara, telah tertulis dalam kitab negarakartagama. bahkan maha patih gajah mada telah bersumpah dengan makna yang senada dengan binneka tunggal ika, yang terkenal dengan nama sumpah palapa, "tidak akan memakan buah palapa (menikmati kesenangan) sebelum nusantara dapat disatukan". hal ini adalah fondasi kehidupan indonesia. keberagaman, kebinekaan, perbedaan adalah sebuah takdir yang harus dihadapi oleh bangsa ini. dan sinergisitas antar masyarakat menjadikan Indonesia menjadi binneka tunggal ika.


jadi, sebelum memaksa masyarakat untuk memahami perbedaan, berikan dahulu mereka akan makna perbedaan dan sinergisitas antar elemen yang berbeda. dan indonesia adalah sebuah sistem yang lebih komplek daripada sistem yang dihadapi oleh masyarakat sehari-hari.