Header Ads

Masihkah Jogja Istimewa?

sebelum Anda men-judge saya sebagai orang yang anti atau benci dengan Jogja, saya mohon maaf, saya menulis justru karena saya cinta Jogja. saya lahir dan sampai saat ini tinggal di Jogja. dan saya pun bangga dengan status istimewa yang melekat pada Jogja. saya hanya merasa ada yang perlu diluruskan mengenai keistimewaan Yogyakarta. bukan pada undang-undangnya atau pemerintah, melainkan pada masyarakat Jogja.


ketika kita mempertahankan status keistimewaan Jogja hanya berdasar pada sejarah, misal Yogyakarta yang pertama kali menyatakan diri masuk dalam sistem negara Indonesia atau berkaitan dengan pernah jadi Ibukota negara ketika Indonesia sedang dalam keadaan kritis, kesannya kita seperti anak manja. bagaimana tidak, kita hanya bisa mengatakan "ini bapakku" bukannya "ini aku". sejarah tidak boleh kita lupakan, tapi juga harus menjadikan kita menjadi lebih baik.


apa yang membuat Yogyakarta berstatus daerah istimewa? dalam undang-undang keistimewaan, ada lima aspek yaitu, (1) mekanisme pengisian jabatan kepala daerah, (2) kelembagaan pemerintahan, (3) pertanahan, (4) kebudayaan, dan (5) tata ruang. kita hanya akan berbicara pada aspek keempat, kebudayaan. berkaitan dengan keempat aspek lainnya mungkin kita bisa bahas lain kali.


secara pemerintahan, Yogyakarta sudah istimewa. kita diperintah oleh seorang sultan dimana beliau "dipilih" berdasarkan sistem yang ada di keraton. tetapi, sudahkah beliau kita istimewakan? kata kakak saya, di Thailand yang mana negara dipimpin oleh raja, setiap senja hari rakyatnya selalu berlutut ataupun sujud sebagai penghormatan kepada raja. saya tidak tahu hal itu benar atau tidak karena saya belum pernah ke sana :D .


bukan bermaksud mengkultuskan beliau, tetapi bagaimana sikap kita sebagai rakyat yang ingin dipimpin oleh pemerintahan yang istimewa. bukan berarti kita juga harus melakukan hal yang serupa. tapi apa yang sudah kita lakukan sebagai penghormatan kepada beliau? kita ambil contoh sederhana saja, pernah lihat wartawan mewawancarai Sri Sultan dengan seenak udelnya sendiri? berdesak-desakan tidak karuan seolah-olah yang diwawancarai itu orang biasa. atau contoh lebih sederhana, ketika kita mendapat himbauan dari Sri Sultan, apakah kita sendiko dhawuh atau justru mengabaikannya? silakan jawab sendiri.


Sri Sultan Hamengku Buwono X


yogyakarta adalah sebuah sistem yang di dalamnya bukan hanya ada manusia dan infrastruktur benda mati, tetapi punya unggah ungguh. budaya bukan sesempit ketika mengartikan kesenian. ada hal yang lebih besar yaitu segala baik hal yang diturunkan oleh nenek moyang kita.


apakah kita layak disebut istimewa ketika banyaknya kasus kriminal karena minum minuman keras, karena maraknya tempat hiburan malam, maraknya tempat prostitusi, banyaknya masyarakat yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya.


unggah ungguh terikat pada satu orang kepada orang lain. bagaimana kita bisa menghormati dan bertoleransi kepada orang lain. coba ingat-ingat, ketika kita memasuki perkampungan menggunakan kendaraan bermotor sedangkan di jalan tersebut sedang ada kegiatan gotong royong, apakah kita berjalan seolah tidak terjadi apa-apa? dengan wajah "angkuh" sering kita war-wer di tengah kerumunan warga tersebut.


pernah terjadi pada sebuah kampung, ada warga yang sedang berduka cita karena salah satu anggota keluarga meninggal dunia. tenda didirikan di jalan karena tidak punya halaman. acara sudah selesai, kursi ditumpuk dan belum begitu menepi, bebarapa masih di menutup jalan. ada sebuah mobil yang akan lewat. hampir saja ia menabrakkan mobilnya ke kursi jika saja tidak ada warga yang menegur. bahkan ada pula anak kecil yang sedang bermain di kursi tersebut. apa susahnya bilang ke warga "maaf saya mau lewat, bisa minta tolong kursinya dipinggirkan?"


dimana unggah-ungguh yang kita sebagai warga Jogja miliki? Anda bisa saja mengatakan "warga Jogja bukan hanya dari Jogja". memang Jogja adalah miniatur Indonesia dimana masyarakatnya begitu heterogen. tapi kita harus ingat bahwa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. jadi ketika Anda masyarakat dari luar Jogja ingin masuk ke Jogja, Anda harus sadara bahwa ini bukan tanah antah berantah, melainkan sebuah daerah yang memiliki sistem. secara sarkastis, kita bisa mengatakan "jika tidak bisa hidup dengan budaya Jogja silakan keluar dari Jogja".


masihkah Jogja Istimewa? bukan lagi status yang kita kejar, melainkan apakah kita benar-benar istimewa? mari kita jawab dengan sikap.



sumber gambar: wikipedia