Header Ads

Selfie Bersama Sahabat di Candi Borobudur

Berbicara tentang foto, saya termasuk orang yang jarang punya foto diri saya sendiri. kalau pun ada foto saya, biasanya ada di kamera orang lain dan saya tidak memilikinya. Dan jika saya yang pegang kamera, saya lebih sering dan lebih suka nge-shoot. jadi ketika saya upload foto-foto acara, sering yang bertanya, "kamu mana?" dan jawabannya selalu sama, "saya yang jadi memfoto". sama halnya saat beberapa waktu yang lalu saya update foto saya di facebook, ada yang berkomentar, "tumben kelihatan wajahnya". terlebih setelah hp berkamera saya mati, saya hanya pegang hp yang cuma bisa sms dan telpon (plus fitur radio). jadi keinginan untuk berfoto ria terlebih selfie harus diredam. berharap emakgaoel.com berkenan memberi saya Windows Phone Ascend W1 dari smartfren. *ngarep banget* hehe





[caption id="attachment_2194" align="aligncenter" width="640"]selfie borobudur , Gama Fatul, dan Fauzi Saya, Gama Fatul dan Fauzi[/caption]

Berbicara tentang selfie yang berkesan, pikiran saya langsung melayang pada kejadian hampir setahun yang lalu, tepatnya 27 Mei 2014 yang juga bertepatan hari libur nasional, kebangkitan Isa Al Masih. saat itu Kang Gama Fatul (berbaju biru) yang berasal dari Bandung sedang cuti kerja dan berkunjung ke Jogja. yang berbaju merah putih adalah Fauzi di mana di rumah dia Kang Gama menginap. Fauzi ini juga menjadi guide selama Kang Gama di Jogja. keduanya merupakan sahabat online saya dan mereka berdua adalah munsyid atau penyanyi nasyid. saya? saya pendengar saja hehe. di foto tersebut saya yang berposisi jongkok.


Saya niatkan semoga bisa bertemu mereka berdua selama Kang Gama di Jogja. Dan ternyata dari hari yang saya bisa, bertepatan dengan mereka berdua ke Candi Borobudur. pagi hari saya ada acara, selesai acara sekitar dzuhur. kita janjian bertemu ba'da dzuhur di candi. mereka berdua dari Bantul ke Borobudur dengan menggunakan bis antar kota antar propinsi (karena Borobudur masuk di wilayah Magelang), sedangkan saya dari Sleman dengan mengendarai motor.


Saya merasa harus menjadi tuan rumah yang baik dan tidak ingin membuat Kang Gama yang menjadi tamu menunggu saya, saya pun ngebut. sebenarnya jalan ke Borobudur sering saya lewati dan kondisinya biasa saja. tetapi berhubung hari itu adalah hari libur nasional, tentu saja jalanan menjadi macet di beberapa lampu merah. terlebih ada beberapa ruas jalan yang sedang diperbaiki membuat kemacetan semakin parah. jadi, beberapa kilo saya ngebut, lalu sekilo macet, ngebut lagi, macet lagi. didukung suasana tengah hari yang panas membuat suasanya menjadi tidak nyaman.


Setelah berkendara dengan ngebut dengan diselingi macet yang lumayan dan tentu saja terik panas matahari, akhirnya saya sampai di Borobudur. sesampai di sana saya belum bisa bertemu mereka. saya mencari kesana kemari diselingi sms dan telpon, tetap saja kita belum bertemu. meski saya menunggu di pintu masuk, tetapi sama saja. akhirnya kita memutuskan untuk bertemu di dalam komplek candi saja. ternyata mereka sudah ada di sana dan kita tidak menyadari kalau melewati pintu yang sama. kok bisa?


Hari itu adalah pertama kalinya saya bertemu dengan Kang Gama. sedangkan untuk Fauzi, kita pernah bertemu tetapi pertemuan terakhir adalah sekitar setahun sebelumnya. di Candi Borobudur kita cerita-cerita, seru-seruan, konyol-konyolan, berfoto bersama termasuk selfie, membuat video dokumentasi, dan lain sebagainya. Dan semua dilakukan di bawah terik matahari yang cukup menyengat mengingat waktu itu sekitar jam dua siang. ba'da asar, keceriaan itu harus berakhir. saya harus segera pulang sedangkan mereka berdua harus bersiap-siap interview jadi guest star di Radio MQFM Jogja. setelah mengantar mereka berdua ke terminal Borobudur, saya pun pulang.


Setelah melepas kepergian mereka, ternyata saya baru sadar kalau uang di dompet tinggal sepuluh ribu rupiah. Dan kondisinya diperparah dengan indikator bensin motor sudah menunjukkan tanda E alias entek (habis, jv). saat itu uang di ATM juga sedang kosong. mau tidak mau uang sepuluh ribu itu saya belikan premium (saat itu harga premium masih Rp 60.000,-). saya pulang dengan perjalanan sekitar 30 km tanpa membawa uang sedikit pun. Masya Allah beginilah manusia yang masih mempertuhankan uang, ketika tidak ada uang rasanya ketar-ketir (khawatir, jv). saya hanya bisa berharap di jalanan tidak terjadi apa-apa, semisal ban bocor atau apa lainnya.


Perjalanan pulang pun tidak sepenuhnya lancar. tidak bisa lagi ngebut karena memang sudah sore dan jalanan macet parah. bagi mereka yang berasal dari kota besar, mungkin kemacetan seperti itu hal yang biasa. tetapi bagi kami warga Jogja dan sekitarnya, macet hingga lima kilometer adalah hal yang luar biasa. berhubung saya pakai motor, bisa zigzag kanan kiri dengan lebih lincah dibanding mobil. alhamdulillah setelah bermacet ria, saya sampai rumah dengan baik.


Foto di atas diambil dari kamera saku Fauzi dengan menggunakan timer. diambil setelah lelah berputar keliling candi entah berapa kali hingga bermandikan keringat. terlihat agak silau karena memang cuaca yang panas. kita bisa berselfie di sana karena di tempat yang teduh sudah dipenuhi oleh pengunjung lain. Dan di tempat tersebut juga bisa terlihat relief yang sebagian besar dari kita tidak bisa membacanya. kalau di lantai atas, yang ada hanya stupa dan tidak ada reliefnya.


Patut direnungkan, rasanya sangat disayangkan jika hambatan dan masalah tersebut diatas dijadikan sebuah kekecewaan. bagi sebagian orang akan berkomentar atau lebih tepatnya nyinyir, "cuma mau ketemuan aja sampai segitunya, mending ga usah ketemu". justru di sanalah sensasinya, saya senang bahwa perjuangan untuk bertemu dan bersilaturahim dilakukan tidak dengan cara yang mudah. justru dengan adanya aral rintangan untuk melakukan sesuatu, terlebih untuk menyambung silaturahim, akan menambah nilai dari silaturahim itu sendiri. suatu saat kita akan bisa bercerita (termasuk saat ini) bahwa saya bertemu dengan mereka dengan cara yang indah. keindahan itu terjadi karena perjuangan. Dan Insya Allah persahabatan dan persaudaraan kita menjadi lebih bernilai. Dan Insya Allah keringat yang keluar karena diniatkan silaturahim tersebut diberi pahala ibadah, aamiin.


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Selfie Story bersama Smartfren"


selfie di candi borobudur bersama smartfren