Header Ads

Rusaknya Citra Salesman Keliling

Bagaimana perasaan Anda ketika didatangi sales keliling di rumah? Sebagian besar dari kita mungkin akan bilang menyebalkan atau bahkan langsung diusir. Saya pun demikian. Mereka selalu kita anggap sejenis dengan pengemis, pemulung, atau bahkan langsung memasang praduga bahwa dia bisa jadi bagian dari pencuri.

Hal ini tak lepas dari citra sales keliling yang memang selama ini lekat dengan hal yang demikian. Banyak dari mereka menawarkan barang dengan cara yang memaksa, pandai berbicara dan merayu, menawarkan barang dengan harga yang selangit, atau bahkan parahnya ada pencuri berkedok salesman keliling.

lampu emergency tenaga surya
Sumber: Google images

Terakhir saya berhadapan dengan salesman keliling sekitar dua bulan yang lalu. Ketika itu ia menawarkan lampu emergency sistem solar panel (di-charge dengan tenaga surya) harganya satu juta. Wow, sama gaji buruh cuma selisih empat ratus ribuan. Jika saya buruh pabrik, beli ini langsung tidak makan sebulan, hehe. Mendengar tawaran harga yang ia ceritakan, ia saya ceramahi macam-macam dan akhirnya pamit. Setelah dia pergi, saya cek google, ternyata harga di marketplace online semacam tokopedia hanya 50 ribuan. Bahkan belakangan saya melihat ada yang jualan di facebook harganya 30 ribuan.

Sebenarnya, jika kita telisik lebih dalam, sistem salesman keliling ini adalah sistem marketing yang benar-benar efektif. Mereka (atau kita, jika memiliki usaha dagang), bisa mengetahui dengan sebenarnya apa yang diinginkan oleh pelanggan. Ya mereka tak ubahnya dengan penjual sayur keliling. Jika pagi ini ada yang minta ayam ternyata tidak ada, besok paginya langsung dibawakan. Jika ternyata sayurnya terlalu tua, esok paginya ia membawa sayur yang lebih muda dan lebih segar. Atau sejenis abang tukang bakso keliling, ketika ada pembeli yang menginginkan kuah bakso yang tidak terlalu asin, ia mengurangi takaran garamnya. Jika pembeli menginginkan jumlah bakso yang biasanya 10 biji menjadi 20 biji, langsung diberi 20 biji. Dan seterusnya.

Hal yang demikian seharusnya juga bisa diterapkan pada level produk yang lebih "modern". Salesman keliling bukan sekedar menjual barang sebanyak-banyaknya tetapi juga mendengar apa yang diinginkan oleh calon konsumen. Misal, kita menjual senter atau lampu emergency, apa sih yang diinginkan oleh konsumen? Ternyata mereka menginginkan yang ada ini itunya. Lalu suara-suara konsumen itu diteruskan ke atas, ke manajer, yang nantinya direspon ke produksi apakah bisa dibuat atau tidak dengan harga yang sesuai keinginan konsumen pula.

Mereka, salesman keliling juga bisa dijadikan alat untuk memetakan pasar yang benar-benar bisa disasar oleh perusahaan tersebut. Bisa jadi ketika salesman keliling diterjunkan di wilayah X respon pasarnya rendah tetapi di wilayah Y responnya tinggi. Dengan banyaknya salesman keliling yang diterjunkan, perusahaan bisa lebih banyak mendengar apa yang diinginkan oleh konsumen di wilayah-wilayah potensial tersebut. Dan masih banyak tugas salesman keliling selain menghabiskan barang.

Sayangnya, kondisi sekarang tidaklah demikian. Mereka, salesman keliling hanya menjual sebanyak mungkin apa yang diberikan oleh pemilik barang. Entah apa yang diinginkan oleh konsumen mereka tidak peduli. Masalah mereka masuk ke wilayah yang salah, mereka juga tidak peduli. Hingga akhirnya, mereka tidak lagi peduli dengan kejujuran mereka sendiri. Mereka bisa jadi berbohong kepada konsumen kalau sudah ada yang membeli barangnya padahal tidak satu pun yang terjual. Dan parahnya, ada oknum dari mereka tidak lagi peduli, mereka bisa memanfaatkan situasi untuk mencuri.

Citra salesman keliling telah rusak. Padahal mereka adalah garda terdepan untuk mendekatkan konsumen dengan produk. Kini, perusahaan harus memutar otak bagaimana menyikapinya. Bukan hanya perusahaan besar, perusahaan kecil pun demikian. Dan sayangnya, perusahaan kecil ini yang justru kebanyakan yang menerjunkan salesman keliling "rusak" ini. Lalu bagaimana? Mari kita bersama-sama berfikir. :)