Batam, apa yang pertama terpikir oleh Anda ketika mendengar tentangnya? Smartphone BM alias Black Market? Hadeuh... Memang sih, hal tersebut tidak bisa dipungkiri, setidaknya untuk saat ini. Marak masuknya produk BM adalah satu risiko yang harus dihadapi Batam sebagai industrial city atau kota industri.

Schneider Electric, Smart Factory Batam
Sumber gambar: Schneider Electric

Di kota ini, kita berharap banyak bahwa Industri 4.0 di Indonesia akan lahir. Bukan Jakarta, Bandung, Jogja, atau kota-kota lain khususnya di pulau jawa. Namanya juga industri 4.0, hidupnya bermula dari dunia industri yang kemudian merambah ke kehidupan sosial atau kalau di Jepang dikenal dengan society 5.0.

Industri 4.0 adalah keniscayaan. Dan smart factory adalah salah satu bentuk penopang hadirnya industri 4.0 tersebut. Lean manufacturing yang telah dikenalkan oleh raksasa otomotif --toyota-- puluhan tahun silam, hingga saat ini masih menjadi dasar dalam penyelenggaraan proses dan sistem manufaktur. Lean manufaktur atau manufaktur yang ramping adalah proses manufaktur yang mengeliminasi waste hingga sebesar-besarnya.

Baca juga: Bagaimana pengertian Society 5.0

Contoh waste secara sederhana, semisal kalau kita berjalan ke depan sejauh 100 meter, untuk apa kita mampir-mampir --padahal tidak ada keperluan-- yang membuat perjalanan menjadi 150 meter. Kalau kita cuma perlu berbelanja seratus ribu, mengapa malah tambah jajan es krim --padahal lagi pilek-- yang bikin pengeluaran jadi dua ratus ribu. Bagaimana jika itu terjadi di dunia industri? Pengeluaran atau waste yang demikian tentu sangat merugikan.

Waste tidak bisa hilang sepenuhnya tetapi kita bisa menguranginya. Dengan menjadi smart factory, perusahaan dapat mengurangi waste semaksimal mungkin. Bagaimana bisa? Dengan IIoT atau Industrial Internet of Things (atau kita lebih sering mendengar IoT, ini sama saja), perangkat di pabrik tersebut saling mengenali satu sama lain. Satu gedung pabrik (atau malah lebih) itu ibarat satu tubuh. Kalau kaki gatal, tangan otomatis menggaruk. Demikian pula di smart factory, jika ada mesin yang bermasalah, mesin-mesin yang lain akan saling menyesuaikan. Dan kesemuanya itu terhubung dengan internet, sehingga bisa terhubung pula dengan konsumen. Otomatis tapi tidak sekadar otomatis. Ada chemistry di antara perangkat dan pasti dengan manusianya pula, begitulah smart factory.



Salah satu contoh adalah Schneider Electric, perusahaan multi nasional dan menjadi Smart Factory Batam. Dengan menerapkan IIoT, Schneider Electric ingin menunjukkan kepada pelanggan bagaimana transformasi digital dapat membantu kinerja perusahaan.

Dengan EcoStruxure, arsitektur dan platform Schneider Electric smart factory, dalam kurang dari enam bulan bisa menurunkan waste material sebesar 46% dan waktu maintenance operasional sebesar 17%. Dengan demikian, efisiensi operasi bisa meningkat sebesar 12% dan produktivitas karyawan pun naik 13%. Kuncinya adalah adanya chemistry antara perangkat dengan manusianya.

Perusahaan membuat keputusan berdasar informasi yang digerakkan oleh data, menghasilkan peningkatan keuntungan, kinerja manajemen aset, efisiensi operasional dan tenaga kerja produktif yang lebih pintar. Hal tersebut dilakukan tetapi masih menjaga operasi tetap aman, cepat, dan ramah lingkungan. Masa iya, perusahaan yang melayani pelanggan agar melakukan transformasi digital tetapi dirinya tidak digital duluan. Dengan melihat Schneider Electric sukses sebagai smart factory, pelanggan pun dapat teryakinkan.

Hadirnya Schneider Electric sebagai Smart Factory Batam adalah sebuah cahaya terang hadirnya industri 4.0 di Indonesia. Semoga nantinya segera hadir smart factory lainnya dan manusia-manusia Indonesia juga bisa semakin smart.