Ya, canting batik, khususnya canting batik tulis, adalah salah satu teknologi canggih yang pernah ada dan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Bagaimana tidak, sejak dulu hingga sekarang bentuk canting juga seperti itu. Jika pun ada perubahan dan modifikasi, tidak terlalu signifikan alias perbaikan minor saja.


Canting Batik adalah Teknologi Canggih

Statement tentang kecanggihan canting batik ini diutarakan oleh alm Bpk Mutadin ketika saya pertama kali silaturahim ke Batik Keraton/Kokrosono. Kemarin (13/1/2021) saya mendapat kabar kalau beliau telah berpulang setelah sebelumnya dalam perawatan rumah sakit. Beliau adalah dosen serta kaprodi D3 Kriya Batik Universitas Pekalongan, praktisi industri batik juga sebagai tokoh masyarakat. Kelompok usaha bersama kerajinan batik Jambe Mukti juga atas inisiasi beliau. Bagaimana saya tidak merasa ikut kehilangan, dari beliau saya belajar banyak baik tentang batik maupun hal-hal lainnya. Selamat jalan Pak Tadin, insyaAllah husnul khatimah, aamiin.


Di postingan terdahulu tentang acara seminar batik di Museum Sonobudoyo, istilah nyerat atau menulis di selembar kain memang sudah lama dikenal. Meski belum diketahui apakah nyerat di waktu itu menulis menggunakan canting. Di India pernah dikenal kalamkari dimana prosesnya juga menulis di selembar kain. Tetapi bentuk kalamkari pun bukan canting melainkan lebih menyerupai pena. Dan kalamkari pun pernah dinyatakan punah, meski belakangan dihidupkan kembali.


Kembali ke kecanggihan canting, bisa dibayangkan entah di tahun berapa tetapi yang pasti di waktu yang sangat lampau, nenek moyang kita telah mendesain canting batik sedemikian rupa. Logam yang dibentuk dan memiliki cucuk (kalau burung, cucuk itu adalah paruh) yang lubangnya sekecil itu. Lubang kecil ini bisa dilalui oleh malam (kalau menyebut malam, sudah dipastikan malam panas) dan akan mampat jika malamnya mengental atau bahkan mengering.


Canting Batik adalah Teknologi Canggih

Ukuran cucuk yang sedemikian, memungkinkan malam mengalir dengan baik. Ada canting klowong, tembokan, maupun cecek dengan ukuran cucuk yang berbeda. Cara menggunakannya pun dengan cara yang khas. Bukan melukis melainkan menulis. Bagaimana menulis dengan alat tersebut agar malamnya tidak segera mengering tetapi juga tidak terlalu panas. 


Bagaimana tidak canggih? Menentukan ukuran cucuk yang pas, pembentukan logam yang baik, bentuknya kecil lagi. Sehingga ukurannya pas untuk menulis batik.


Banyak modifikasi bentuk canting telah dilakukan, baik oleh praktisi batik maupun akademisi khususnya para mahasiswa. Ada yang menggabungkan canting batik dengan mesin sehingga pembatikan dilakukan secara otomatis. Sayangnya, jika mengubah dari penggunaan manual ke otomatis atau dengan kata lain menghilangkan sisi hand made maka dikhawatirkan batik kehilangan nilainya. Sehingga perubahan minor adalah hal yang realistis.


Contoh modifikasi maupun redesain canting batik yang telah banyak dilakukan adalah mendesain canting batik dengan pemanas listrik, atau perubahan minor dimensi canting agar nyaman digunakan, atau mendesain ulang canting batik untuk penyandang difabel.


Meski demikian, kecanggihan canting batik hasil modifikasi tidak akan terlepas dari bentuk awal yang memang sudah canggih. Masih mengeluh kalau batik itu mahal? Itu lho, cantingnya saja canggih :)