Menyampaikan Ilmu vs Menyampaikan Pengalaman

Pernah suatu ketika saya diundang sebagai peserta undangan pada even semacam seminar. Topiknya tentang personal branding. Mungkin kesalahan saya, dalam perjalanan ke lokasi sudah berekspektasi yang bermacam-macam terkait acara tersebut.




Ketika pembicara naik ke podium dan melontarkan kalimat pembuka, saya merasa agak aneh. Mengapa terlalu banyak bercerita tentang pribadi beliau. Saya masih berprasangka bahwa nantinya akan mengalir masuk ke materi, bagaimana membangun personal branding yang baik dan benar. Ternyata saya salah. Selama satu jam penyampaian materi, hingga beliau mengucap salam penutup, seluruh isi materi adalah tentang pengalaman hidup beliau. 

Itulah mengapa saya mengatakan kalau saya salah terkait ekspektasi. Saya berekspektasi bahwa akan personal branding yang benar itu seperti apa dan bagaimana membangunnya. Ternyata saya tidak mendapatkan itu.

Memang benar, beliau sedang menjelaskan bagaimana personal brandingnya sendiri. Tetapi apakah personal branding yang beliau bangun itu benar dan baik? Dan apakah kita sebagai peserta jika menjalani hidup seperti beliau, branding yang terbangun juga akan sama baiknya?

Kenapa saya tidak menegur? Tentu saya menjaga rasa di beliau sebagai pembicara dan panitia yang menyelenggarakan. Cukup saya saja yang merasa kurang sreg dengan materi beliau.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh dari sekian banyak orang dan aktivitas yang begitu menonjolkan narsisitasnya. Bukan hanya kali itu saja, beberapa kali saya menemukan acara yang demikian. Bukan bicara tentang ilmu yang baik dan benar tetapi tentang siapa dirinya. 

Mereka merasa sudah cukup makan asam garam perjalanan sehingga orang lain bisa mengikuti jejaknya. Mohon maaf, kebanyakan mereka adalah para praktisi dan usahawan.

Padahal, jika kita mengikuti acara lain dengan pembicaranya adalah orang-orang memiliki pendidikan yang cukup, mereka akan menyampaikan keilmuan yang sebenarnya. Mereka meski memiliki pengalaman hidup yang luar biasa, ketika berbicara justru bukan tentang dirinya melainkan tentang keilmuannya.

Ketika mengikuti acara yang memang berbicara tentang ilmu, maka yang dirasakan justru kenikmatan. Kita bisa memperoleh pengalaman dan perjalanan hidup dari lebih banyak orang, bukan sekadar pengalaman sang pembicara. Kita bisa menjelajah bumi dan kehidupan yang lebih luas.

Para praktisi yang hanya mengandalkan pengalaman hidupnya, ketika ada junior yang menyampaikan salah satu materi keilmuan, mereka akan menolak mentah-mentah. Mereka akan mengatakan "Saya sudah membuktikan sendiri, tidak hanya teori". Mereka kadang terjebak dalam kesombongan dan merendahkan para akademisi. 

Sedangkan mereka yang memiliki ilmu, akan menyampaikan ilmunya sesekali diselingi pengalaman pribadi tanpa merendahkan para praktisi.

Idealnya memang kita sebagai praktisi yang menjalani hidup berdasarkan ilmu yang semestinya. Sehingga ilmu bukan hanya teori melainkan juga membuktikan dalam kehidupan.

Bagai ilmu padi, semakin berisi maka semakin merunduk. Itulah pentingnya ilmu. Semakin belajar tentang ilmu, maka semakin bisa menempatkan diri yang rendah hati. Sebab ketika kita belajar tentang ilmu, pasti di dalamnya ada terselip tentang ilmu rendah hati. Jika tidak, bisa jadi proses belajar kita ada yang salah.

Itulah mengapa kita perlu sekolah. Bukan sekadar belajar di google lalu trial and error dala kehidupan. Karena ilmu rendah hati bisa kita peroleh jika kita belajar yang benar.