Header Ads

Sistem Zonasi, Sekolah Favorit itu Pasti Selalu Ada

Proses penerimmaan peserta didik baru sekolah memang sudah berlalu, siswa sudah bersekolah hampir sebulan. Tetapi pembicaraan tentang sistem zonasi masih belum selesai. Terlebih oleh para orang tua yang kini anaknya berada di tahun terakhir,  kelas 9 SMP atau kelas 6 SD. Tentu saja tentang kekhawatiran sistem penerimaan peserta didik tahun depan.

Sistem Zonasi, Sekolah Favorit itu Pasti Selalu Ada
sumber: ig @polressleman

Dalam beberapa kali pemberitaan, kebijakan penerimaan peserta didik baru dengan sistem zonasi ini diambil pemerintah adalah untuk pemerataan kualitas pendidikan Indonesia. Nantinya tidak perlu lagi merisaukan akan sekolah favorit dan sekolah yang kurang favorit. Atau dengan kata lain menghilangkan gap antara sekolah favorit dan bukan favorit. Dengan "memaksa" anak yang pandai maupun yang kurang pandai untuk bersekolah di dekat rumah, maka sekolah-sekolah akan terisi oleh anak-anak yang pandai maupun kurang pandai. Alhasil nanti semua sekolah isinya sama satu dengan lainnya.

Banyak pro dan kontra terkait dengan kebijakan ini. Tentu saja, meski "cap" sekolah favorit dihilangkan, tetapi bagi para orang tua siswa status favorit masih ada. Protes pun berdatangan hingga ada perubahan dalam hal teknis zonasi meski tidak mengubah zona. Terlebih bagi mereka yang memiliki putra-putri dengan nilai ujian yang bagus.

Baca juga: Membangun generasi emas melalui Lentera

Bagi saya pribadi, penerapan sistem zonasi ini kurang tepat. Mau bagaimana pun sekolah favorit pasti akan ada. Ada sekolah yang bagi sebagian orang tua atau siswa itu sendiri kurang diminati, tetapi difavoritkan oleh orang lain. Dan itu terbatasi oleh aturan pemerintah.

Saya alhamdulillah belasan tahun lalu pernah bersekolah yang menyandang status favorit. Menurut saya, membuat sekolah menjadi favorit bukan pekerjaan satu malam. Dan proses menjadi favorit bukan hanya input calon siswanya yang pintar tetapi juga budaya sekolah memang layak menjadikannya favorit. Setiap sekolah memiliki budayanya sendiri yang menjadikannya berbeda dengan sekolah lain.

Budaya disiplin di sekolah tentu bukan pekerjaan mudah. Calon siswa dipaksa disiplin tetapi kakak kelasnya mengajari untuk tidak disiplin, jadinya percuma. Apalagi para guru yang terbiasa tidak disiplin kemudian dipaksa disiplin, percuma juga. Mendisiplinkan warga sekolah dilakukan setiap hari dalam beberapa tahun sehingga semua sesuai dengan aturan.

Sistem Zonasi, Sekolah Favorit itu Pasti Selalu Ada
Cakrawala, buletin sekolah kami
Saya ingat betul waktu itu kami, siswa putra, wajib untuk memotong rambut pendek cepak ala militer. Kalau memakai baju lengan panjang, dilarang untuk menggulungnya. Dan bentuk-bentuk metode mendisiplinkan diri lainnya. Waktu itu, ketika sekolah lain sering sekali pulang agak awal (entah ada rapat, jam kosong, atau apa lah), bagi kami itu adalah barang langka. Pulang pas teng jam pulang adalah biasa dan pulang sore karena aktivitas ekskul pun lebih biasa lagi. Jadi, ketika kemarin-kemarin ramai full day school, bagi kami dulu sekolah memang terbiasa full day. Pulang awal adalah keanehan yang langka. Memang untuk budaya membaca, sekolah saya masih kalah dengan sekolah favorit lainnya. Tentu sekolah dengan budaya membaca itu tadi, dalam memprosesnya bukan satu dua hari.

Seingat saya, sejak enam belas tahun lalu hingga kini pemerintah belum menemukan sistem yang mapan dalam penerimaan peserta didik baru. Saya, beserta ribuan siswa di masa itu, adalah "korban" pertama kebijakan yang selalu berubah itu. Pada saat saya lulus SMP, ketika akan masuk SMA proses penerimaan siswa baru adalah dengan menggunakan tes masuk. Waktu itu, tes hanya dilakukan sekali, hanya satu pilihan sekolah, dan serentak oleh semua sekolah. Jadi, jika lulus tes otomatis masuk dan jika tidak lulus tes maka silakan cari sekolah swasta. Risiko yang harus dipikirkan matang mau memilih bersekolah di mana. Beruntung bagi kami, 25% dengan nilai teratas dari lulusan SMP saya boleh masuk SMA sebelah tanpa tes, dan saya salah satunya.

Di tahun berikutnya, sistem penerimaan siswa baru masih menggunakan tes, tetapi dengan kelonggaran berupa ujian susulan dan alternatif pilihan. Kemudian tahun berganti, menteri berganti, dan sistem pun berganti. Hingga tiba di 2019, sistem zonasi yang digunakan.

Baca juga, mengapa pelajar ngeblog?

Sekolah favorit bukan hanya sekadar input siswanya yang pintar dan kurang pintar. Mereka sekolah agar menjadi pintar. Oleh karena itu, intervensi kepala sekolah beserta para guru sangat diperlukan agar siswa menjadi pintar dan sekolah menjadi favorit. Dengan budaya yang dibangun oleh sekolah selama beberapa tahun sebelumnya, kedisiplinan pun menjadi nilai lebih. Belum lagi gedung dan fasilitas yang berbeda antara sekolah satu dengan sekolah lainnya.

Usia sekolah adalah usia yang sedang mencari jati diri, demikian yang sering disampaikan oleh para pakar pendidikan. Setiap anak berhak memiliki lingkungan yang mendukung dirinya berkembang. Bisa jadi satu anak berkembang di sekolah A, tetapi anak lain cocoknya berkembang di sekolah B. Oleh karena itu, setiap anak berhak mendapatkan sekolah sesuai dengan karakter dia tidak terikat oleh zona.

Sebagian besar waktu kehidupan siswa ada di sekolah. Sekolah akan membentuk karakter siswa. Si A adalah yang pandai, disiplin, santun, dan sifat positif lainnya. Si B, anaknya biasa saja kepandaiannya, kurang disiplin, dan serba kurang lainnya. Ketika mereka bersekolah yang budaya disiplinnya sudah terbentuk, maka Si B pun akan terbawa menjadi baik. Tetapi jika mereka bersekolah di sekolah yang budaya disiplinnya kurang, si A pun akan terbawa menjadi kurang disiplin dan semangat belajarnya menurun hingga nilainya pun tidak bagus lagi. Harus kita akui, ada dan banyak sekolah yang budaya anak-anaknya "ndugal". Gurunya pun membiarkan kenakalan anak didiknya.



Sebuah ketakutan dari saya, karena dipaksa bersekolah di sekolah itu hanya karena jarak, nanti ada siswa yang menjadi korba bullying karena ia tidak cocok dengan budaya yang ada di sekolah itu. Terlebih jika sekolah belum siap dan tanggap dalam mengelola kasus bullying. Nantinya bagaimana pun siswa yang tetap menjadi korban. Isu bullying saat ini sedang menjadi perhatian di dunia pendidikan. Semoga kekhawatiran saya ini tidak terjadi.

Semoga pemerintah segera mendapati sistem yang mapan dan mantap dalam penerimaan peserta didik baru. Meski nanti terjadi pergantian menteri tetapi sistem yang mapan tersebut tidak lagi berubah. Bagaimana pun peserta didik beserta orang tua yang pusing dengan kebijakan ini. Para kepala sekolah dan guru sudah dipusingkan dengan kurikulum yang berubah-ubah dan belum terjadi kemapanan, ditambah lagi dengan sistem penerimaan peserta didik baru yang memperumit kehidupan mereka. Sistem zonasi adalah salah satu cara pemerintah dalam memapankan sistem. Tetapi saya pun belum setuju jika itu dilanjutkan. Semoga dunia pendidikan kita semakin baik menyongsong generasi emas 2045.