Hari sudah siang mendekati sore. Ragu-ragu antara mau mampir ke keraton atau besok saja. Memang sih hari itu saya sedang ada urusan di sekitar keraton. Tapi sesampai di sana ada keraguan, mungkin besok saja mampir ke keraton pas waktunya agak longgar. Sebentar lagi tutup, begitu pikir saya. Tapi, kok ya tangan ini langsung tarik gas motor ambil belok kanan lalu masuk ke parkir wisata kraton. Bermodal lima ribu rupiah sebagai tiket masuk keraton (plus parkir motor) bisa belajar banyak di sini.

Pameran Abala Kuswa Kraton Yogyakarta


Keputusan yang tepat, karena beberapa hari setelah itu saya tidak lagi sempat ke keraton. Lagi pula semua mengkampanyekan #dirumahaja. Perjalanan yang tidak sebentar dari rumah ke keraton semakin membuat rasanya mustahil untuk saya menyempatkan diri jalan-jalan ke kraton. Meskipun selama ramai kasus pandemi corona, pameran abala kuswa tetap buka, kecuali pas penyemprotan desinfektan. Sebenarnya pameran berlangsung sejak 8 Maret hingga 4 April 2020. Tapi harus dipikir berkali-kali kalau datang ke pameran padahal berada di masa social distancing.

Pameran abala kuswa merupakan pameran yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dalam rangka tingalan jumenengan dalem atau 31 tahun bertahtanya Sri Sultan Hamengkubuwono X. Kalau di peringatan 30 tahun di 2019 lalu pameran menampilkan naskah-naskah kuno di Keraton Yogyakarta, untuk pameran kali ini menampilkan busana di keraton sejak HB I hingga kini. Memang tidak semua bisa ditampilkan busana aslinya, tetapi setidaknya kita bisa tahu gambaran busana kala itu. Tapi foto koleksi bisa dilihat sebagaimana ditampilkan oleh ig @kratonjogja.


Tapi mohon maaf, saya tidak memiliki dokumentasi di dalam ruang pamer karena memang tidak diizinkan memotret. Tas beserta smartphone saya titip di bagian penitipan. Sebenarnya tidak wajib dititipkan, tetapi biasanya kalau ada view bagus, tangan ini reflek untuk ambil kamera. Untuk amannya, saya titipkan saja deh.


Begitu masuk, di sisi kiri kita disuguhi foto-foto busana yang diagem (dikenakan) oleh Sultan terdahulu sejak HB I disertai dengan keterangan. Di sisi kanan foto serta penjelasan tentang perubahan busana di keraton dulu hingga sekarang. Di ruangan itu pula ditampilkan busana Kanjeng Ratu. 

Satu statement yang menarik perhatian saya adalah bahwa batik larangan, yakni batik yang hanya ada di keraton dan masyarakat umum dilarang untuk memakainya, sudah ada sejak HB I. Tetapi sayangnya tidak bisa atau lebih tepatnya belum bisa ditelusuri seperti apa motif larangan kala itu. Juga, bagaimana dahulu beskap berbahan bludru berwarna hitam atau ungu tua hanya dikenakan oleh Sultan, tetapi kini rakyat umum pun bisa memakainya.

Masuk ke ruangan berikutnya, di sini saya bisa cukup berlama-lama, meski beberapa kali melihat jam tangan, hehe. Di ruangan ini ditampilkan beberapa motif batik terutama batik larangan, semisal kawung, truntum, parang, dan turunannya. Yang membuat saya berlama-lama adalah ditampilkannya kampuh yang dikenakan oleh @gkrhayu saat pernikahannya. Sebenarnya kampuh ini sudah beberapa kali ditampilkan dalam pameran semisal pameran batik di JEC, tapi saya masih tetap saja suka. FYI, kampuh itu semacam jarik (meski tidak bisa disebut jarik juga) sebagai busana bagian bawah tubuh. Bisa dilihat di foto ig di atas, itulah kampuh. Penjelasannya ada di ig @kratonjogja tersebut. Ilmu saya masih sangat cetek tentang busana, hehe.

Kampuh berukuran 2x4 meter dibatik motif semen dan setelah dibatik kemudian diberi tinta emas. Di bagian tengah berupa ruang kosong berbentuk belah ketupat. Jika dilihat lebih detail, tentu pembuatannya tidak sederhana. Bagaimana membatik kain seluas itu dan kemudian mewarnainya dengan tinta emas. Terlihat anggun dan mewah. Ya iya lah, ini kan memang putri sultan beneran.

Di ruangan-ruangan berikutnya ditampilkan terkait pakaian abdi dalem beserta penjelasan dinamikanya, pakaian bregodo/prajurit keraton beserta penjelasan dinamikanya, pakaian untuk pertunjukan, pakaian untuk upacara adat, dan sebagainya. Pakaian yang ditampilkan detail dari riasan kepala hingga ke ujung kaki. Semua itu adalah koleksi Keraton Yogyakarta.


Pameran Abala Kuswa Kraton Yogyakarta


Di ruangan terakhir, kembali saya bisa berlama-lama di sana. Di ruangan ini kembali dijelaskan bagaimana busana yang pernah dikenakan Sri Sultan terdahulu dengan lebih rinci termasuk busana jendralan. Bagaimana bentuk kuluk (semacam penutup kepala) yang dikenakan HB IX adalah transparan, padahal belum pernah ada di masa-masa sebelumnya. Di sini pula ditampilkan tiga macam busana HB X, yaitu busana keprajuritan ketika kenaikan tahta, busana beskap motif bunga dimana busana ini hanya Sultan yang boleh mengenakannya, dan (yang satu saya lupa, hehe).

Yang membuat saya berlama-lama di ruangan ini adalah kembali ditampilkan kampuh. Kampuh yang dikenakan oleh HB X, berupa batik parang barong dengan sisi tengah berbentuk belah ketupat berbahan sutera bermotif jumputan. Antara sisi luar yang bermotif parang barong dengan sisi dalam sutera jumputan, dijahit berbentuk lidah api. Kembali, bentuk lidah api ini hanya boleh dikenakan oleh Sultan. 

Di stage yang sama, ditampilkan kemben yang tidak biasa. Kemben itu kain yang digunakan untuk "mengikat" kain di bagian perut. Sebenarnya bukan mengikat sih, lebih semacam sabuk begitu. Kalau biasanya hanya kain panjang lurik polos, kalau ini berupa batik dengan motifnya adalah tulisan aksara jawa. Entah bacanya bagaimana dan artinya apa, tapi terlihat tulisannya halus banget meski dalam bentuk batik. Luar biasa terlihat dan terasa mewahnya melihat kampuh dan kemben. Ya iya lah, Sultan beneran gitu loh.

Berbicara budaya, semakin masuk rasanya semakin bodoh. Ternyata banyak sekali yang belum saya ketahui. Dan budaya terbukti mengikuti zamannya. Kraton Yogyakarta tetap menjaga budaya itu dan mengembangkan sesuai zamannya. Kita sebagai masyarakat sudah seharusnya banyak belajar dari kraton karena itu adalah kebudayaan kita juga.