"Bersama kesulitan, pasti ada kemudahan", demikian Tuhan menjanjikannya kepada manusia. Sudah banyak yang menyampaikan himah-hikmah di balik pandemi corona. Mulai dari sisi relijiusitas kita hingga bumi yang sedang beristirahat dari kesibukan manusia. Kesombongan manusia sedikit demi sedikit diluruhkan hingga langit kota yang mulai berwarna biru.

Kita lihat dari sisi yang lain. Apakah pandemi corona ini bisa kita sebut sebagai pintu gerbang industri 4.0 di Indonesia? Kita lihat tanda-tandanya beberapa saja.


Pandemi Corona, Pintu Gerbang Industri 4.0 Indonesia

Sampai saat ini, belum ada satu pun negara yang berani memproklamasikan diri sebagai negara yang sudah sepenuhnya menjalankan industri 4.0. Jerman sekali pun yang menggagas sebutan ini juga belum pede mengatakannya. Jepang dengan Society 5.0 juga belum berani mengatakan sudah menjalankan sepenuhnya. Memang mereka sudah masuk ke gerbang, tapi belum sepenuhnya ke dalam "istana". 

Bagaimana dengan Indonesia? Kita sering mendengar kalau Indonesia siap menghadapi Industri 4.0. Tapi kalau ditanya kesiapannya apa, rasanya masih jauh dari esensi. Tapi dengan hadirnya corona, banyak hal berubah. Atau dengan kata lain, arti dari revolusi sendiri adalah perubahan yang sangat cepat.

Kita kemarin masih memperdebatkan e-learning di sekolah formal. Kita masih mengatakan kalau kita belum siap e-learning karena sinyalnya belum kuat, hardware belum siap, pengadaan perangkat yang mahal, guru-guru perlu diberi pelatihan, dan sebagainya. 

Pendidikan berbasis daring paling kelihatan memang dari  platform ruang guru. Platform bimbel berbayar dengan sistem yang mapan, iklan yang masif, dan penggunanya pun semakin hari semakin banyak. Melihat perkembangan ruang guru, sepertinya dunia pendidikan formal mulai melirik ranah e-learning, tapi entah kapan akan diselenggarakan.

Tapi semua berubah seketika. Hanya dalam waktu seminggu, dunia pendidikan dipaksa untuk menyelenggarakan pembelajaran daring/online. Kondisi memaksa untuk tidak terjadi pengumpulan orang, jadi pemanfaatan fasilitas online harus dilakukan.

Baca juga: Apa dan bagaimana society 5.0

Guru-guru yang sebelumnya menggunakan fasilitas online hanya sebatas whatapp, harus mengenal fasilitas lain. Awal pembelajaran yang hanya berbasis pada tugas online, harus diinovasi dengan video. Pelajar dan mahasiswa pun harus menyesuaikan diri. Disiplin pribadi di kamar kos atau rumah harus dibangun. Sinyal susah bukan lagi menjadi alasan. Operator seluler dan broadband memberi bonus kuota. Peralatan tidak harus mahal, bisa hanya menggunakan laptop dan smartphone. Alasan-alasan beberapa bulan yang lalu menjadi perdebatan, seketika hilang.

Ujian nasional tiba-tiba dihapus. Padahal, isu penghapusan UN ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Dan semua berubah dalam beberapa hari saja.

Karyawan dan ASN dipersilakan bekerja dari rumah, work from home. Bekerja remote di beberapa waktu yang lalu memang menjadi perbincangan. Bagi para freelancer online, bekerja secara remote bukan hal baru. Mereka biasa bekerja dari kafe, kamar, halaman belakang rumah, dan sebagainya. Tapi karyawan kantor dan ASN, belum bisa. 

Semua berubah pula dalam seketika. Video conference yang dulunya hanya dilakukan oleh "orang-orang penting" kini bisa dilakukan oleh siapa saja. Pekerjaan bisa dikerjakan di rumah dan dikirim via email. Memang untuk kali ini tempat bekerja tidak bisa di kafe, melainkan benar-benar di rumah. Untuk sekelas karyawan, mungkin teknologi, alat, dan koneksi internet bagi sebagian orang tidak masalah.

Tantangannya adalah diganggu anak, hehe. Berdisiplin di rumah tidak mudah. Mengejar deadline sambil momong anak tentu sulit. Bukan berarti disambi momong anak, tapi anak-anak akan manja jika orang tuanya di rumah. Jadi mendisiplinkan diri dan keluarga juga sebuah tantangan tersendiri.


Di ranah VR/AR (Virtual reality/Augmented Reality), belum banyak dijamah. Tapi menarik ketika kemarin melihat pos intagram dari Museum Nasional. Museum ini menyediakan fasilitas virtual traveling. Kita bisa mengunjungi bit.ly/mnivirtual untuk bisa jalan-jalan ke dalam museum. Ini sebuah terobosan ketika kita tidak bisa jalan-jalan karena dituntut untuk di rumah saja. Sebuah awal yang bagus dan patut ditiru oleh museum atau penyedia fasilitas yang lain. 

Kalau di luar negeri memang pemanfaatan fasilitas, platform, dan tools terkait industri 4.0 yang lain sudah digunakan dalam penanganan corona ini. 3D printing untuk pembuatan mask ventilator salah satunya. IoT, robotic, big data, dan sebagainya kita cari sama-sama infonya. Indonesia? Kita pelan-pelan saja dulu. Ini saja sudah sebuah kemajuan karena kita sudah dipaksa untuk maju.

Karena corona, kita sedang masuk ke gerbang industri 4.0. Namanya saja masih di gerbang, pasti tantangannya banyak. Seperti kita ketika masuk ke gerbang kampung, kita harus disemprot dulu dengan desinfektan, hehe.