Header Ads

Riset, Kunci Menghadapi Industri 4.0

Salah satu marketplace jagoan di negeri ini, bukalapak, baru saja mendapat terpaan angin yang cukup kencang selepas bos mereka, Achmad Zaky, melontarkan cuitan terkait budget R&D (research and development) di negeri ini yang kecil. Ia menyampaikan itu terkait dengan kesiapan Indonesia menghadapi industri 4.0. Alhasil, tagar #uninstalbukalapak muncul ke permukaan dan trending topic. Terkait dengan itu, banyak orang memunculkan pernyataan klarifikasi maupun koreksi, tentu saja disertai hujatan, mengenai nilai budget riset kita. Achmad Zaky pun meminta maaf atas cuitannya tersebut.

Riset, Kunci Menghadapi Industri 4.0

Saya sebenarnya belakangan ini berusaha untuk menahan diri untuk tidak terlalu banyak berkomentar terkait dunia politik. Akan tetapi, karena ini berkaitan dengan industri 4.0, maka tidak ada salahnya jika isu ini diangkat di blog ini.

Sebagaimana dahulu di pemilu 2014 saya pun menyampaikan kenapa tidak ada pasangan calon presiden-wakil presiden yang berkomentar tentang perpindahan ibukota. Di pemilu kali ini pun tidak ada satu pun isu kampanye yang menyerempet tentang akan hadirnya industri 4.0. Saya menunggu-nunggu akankah isu ini akan diangkat di depat capres-cawapres di sesi terakhir nanti?

Cuitan Achmad Zaky menurut saya mengandung tiga komponen utama yaitu: industri 4.0, budget R&D, dan presiden baru. Ternyata komponen terakhir ini yang lebih mencolok mata dan lebih banyak dikomentari daripada dua atau terkhusus satu komponen pertama yaitu industri 4.0.

Achmad Zaky adalah orang yang teramat dekat dengan dunia yang nantinya akan menjadi industri 4.0. Ia berbisnis berbasis teknologi informasi serta internet. Untuk menjalankan bisnisnya, ia tentu saja mengandalkan riset. Tanpa ada budaya riset, dunia Achmad Zaky di bukalapak bisa jadi sangat mustahil untuk hidup. Jadi, sangat wajar jika ia berkomentar terkait ekosistem riset di Indonesia. Ekosistem riset ini akan berimbas pada ekosistem industri Indonesia yang katanya ingin masuk ke industri 4.0. Riset adalah kunci menghadapi Industri 4.0.


Industri 4.0 bukan monopoli perjalanan milik satu perusahaan. Setiap perusahaan tidak bisa berjalan masing-masing yang nantinya mereka bisa berkata "Perusahaan saya sudah masuk industri 4.0". Pernyataan yang sangat bodoh dan gegabah saya rasa. Industri 4.0 adalah perjalanan milik satu negeri atau bisa jadi satu dunia. Industri 4.0 baru bisa hadir di Indonesia, juga negara-negara lain, jika ditopang oleh tiga elemen yaitu: pemerintah, industri, dan akademisi.

Meskipun perusahaan sudah siap dengan industri 4.0, jika tidak didukung oleh pemerintah, maka kesiapan mereka akan sia-sia. Apa dukungan dari pemerintah? Uang, ya tentu saja tapi uang bukan segalanya. Yang utama adalah kepastian hukum perundang-undangan. Tentu saja ini isu sejak jaman jahiliyah dulu, teknologi hadir teramat sangat cepat bahkan lebih cepat daripada kelahiran manusia. Tetapi aturan perundang-undangan hadir sangat lambat bahkan lebih lambat daripada kura-kura. Dan, untuk mengucurkan dana dari pemerintah pun harus ada peraturan yang memayunginya. Apakah di sini pemerintah siap dan bisa selalu siap?

Akademisi pun harus terlibat di sana. Perusahaan selain bisa melakukan riset mandiri tetapi dengan kolaborai dengan akademisi, perjalanan bisa lebih indah. Kenapa? Karena kebanyakan perusahaan terfokus mengejar laba dengan cara-cara yang biasanya mereka lakukan. Merka lupa bagaimana berinovasi. Akademisi lah yang memantik sebagai inovator. Di sini Achmad Zaky berbicara sebagai seorang usahawan dan teknopreneur yang mendamba perjalanan bersama pemerintah dan akademisi.

Riset, Kunci Menghadapi Industri 4.0
Cuitan Achmad Zaky (sumber: Tirto.id)

Jika diperhatikan, empat besar nilai riset yang disampaikan oleh Achmad Zaky, mereka adalah pionir dunia masa depan dengan pencanangan inisiatif masing-masing. US dengan nilai riset terbesar mencanangkan "Industrial Internet", China di runner up menginisiasi "Made in China 2025" yang tentu saja made in china-nya berbasis internet. Di peringkat tiga, Jepang menginisiasi Society 5.0 (sudah kita singgung di postingan sebelumnya), dan di peringkat empat adalah Jerman dengan inisiasi Industrie 4.0 yang menjadi kiblat kebanyakan negara termasuk kita. Ini membuktikan, kalau mau hadir sebagai pemenang, kita harus mau melakukan riset.

Sayangnya kita hidup di Indonesia dimana netizen-nya seperti itu. Kita terlalu terbawa suasana pilpres yang kalau bukan kampret ya cebong. Begitu Achmad Zaky bilang "presiden baru" semua tersulut seperti sumbu mercon. Achmad Zaky, Bukalapak, dan industri telah terbawa pusaran pilpres 2019. Benar kata Achmad Zaky, industri 4.0 adalah omong kosong. Kalau kita masih terus menerus seperti ini, ya kan?