Di postingan terdahulu, salah satu yang khas dari pandemi covid-19 ini adalah drakor, di samping zoom dan challenge. Sepertinya ada satu lagi yang tidak sempat saya masukkan di sana yaitu gowes. Tetapi, bagi saya Jepang lebih menarik daripada Korea. Dan karena untuk gowes perlu modal yang cukup besar, terlebih karena permintaan yang begitu tinggi yang mengakibatkan harga sepeda menjadi melangit, saya memilih berlari. Jadi, ketika orang-orang berdrakor dan bersepeda, saya berjejepangan (meski hanya dua drama jepang, hehe) dan berlari.


Belajar lari dari rikuoh - jogja 10k

Drama Jepang dan berlari bagi saya saling terkait. Setelah puas dengan drama jepang Last Love Forever, saya menyambung dengan drama Jepang lain, Rikouh. 


Drama Jepang yang mengisahkan tentang sosok Koichi sebagai pemilik usaha tabi (sepatu khas Jepang) "Rikuoh" berusia seratus tahun. Agar bisa bertahan hidup, ia ingin berinovasi, atau istilah yang terbaru disrupsi. Tabi yang semula sebagai sepatu untuk tradisi, ingin dibuat menjadi sepatu lari. Perjuangan yang tidak mudah baik dari sisi teknik pembuatan, perlawanan mental, hingga pendanaan. 


Dari sisi teknis, Rikuoh harus berjuang mencari desain paling tepat untuk digunakan untuk berlari. Lari yang paling tepat dan tidak membuat cedera adalah lari dengan form midfood running. Bagaimana agar tabi Rikuoh ini bisa digunakan? Beruntung Murano sebagai shoe fitter mau bergabung dengan Rikuoh. Bagaimana dengan sol? Di kisah ini sol Rikuoh menggunakan silkray yang dikembangkan dan dipatenkan oleh Iiyama. Pembuatan sol dan masalah mesin menghiasi perjuangan mendapatkan sol yang tepat. Mendapatkan upper yang tepat pun tidak mudah. Di sini perjuangan Daichi, anak Koichi, untuk mendapatkan bahan upper yang cocok menjadi sentuhan tersendiri.


Mental pun diuji. Pak Genzo sebagai karyawan paling senior sejak awal menolak pengembangan tabi lari ini. Bahkan beberapa kali ia mengusulkan untuk menghentikan pengembangan. Rasanya geregetan melihat bapak yang satu ini. Maklum lah, beliau generasi sepuh. Perjuangan bertemu dengan Mogi pun sebuah perjuangan, apalagi harus berhadapan dengan brand sebesar Atlantis. Ditambah mental untuk bertemu dengan calon vendor, bank, bahkan calon orang yang ingin mengakuisisi Rikuoh.


Rikuoh pun menggandeng Mogi, seorang pelari marathon. Mogi sendiri sempat cedera padahal ia sedang bertekad mengalahkan rivalnya, Kezuka. Perjuangan Rikouh mendekati Mogi harus berhadapan dengan Atlantis, merk sepatu lari yang secara apa pun jauh lebih dominan. Bahkan sampai akhir kisah, sample sepatu yang tersisa hanya satu pasang untuk Mogi, Rikuoh tidak cukup modal untuk melanjutkan pengembangan, keadaan memaksa harus menyerah, dan di saat itu Atlantis sedang menyodorkan kontrak dengan Mogi.


Drama Jepang Rikuoh ini mirip dengan film Thailand The Billionaire: Top Secret. Itu lho film yang mengisahkan anak muda ingin menjadi jutawan dengan membuat dan menjual keripik rumput laut, ingat kan.... Banyak tulisan tentang Rikuoh ini berkaitan dengan motivasi bisnis.


Setelah menonton Love Last Forever yang ceritanya terasa begitu cepat dan menguras emosi, di drama ini perjalanan terasa sangat lambat. Sempat agak bosan sih, tapi penasaran juga kalau tidak diselesaikan, hehe.


Saya jadi ingin berlari


Rikuoh menjadi sebuah gambaran bahwa sepertinya saya lari saja. Mau beli sepeda kok harganya menggila. Mau merestorasi sepeda lama, juga tidak cukup uang. Kenapa tidak berlari saja. Didukung nonton drama ini jadi semakin yakin. 


Belajar Lari dari Rikuoh - Lari di UII

Tetapi saya butuh sepatu lari. Dengan jumlah uang di dompet yang sangat minim, sempat saya lari ke tempat jualan sepatu murah. Itu lho yang jual sepatu harga grosir dengan harga super murah. Kenapa, ya itu tadi, faktor harga. Kalau di toko, sepertinya uang saya tidak cukup. 


Rencana keluar gagal. Akhirnya buka-buka hp, lho kok ada merk 910 (dibaca Nine Ten), brand yang selalu diperkenalkan dan dibanggakan oleh Bang Sandiaga Uno. Lihat harganya, kok murah meriah. Apalagi oleh Bang Sandi selalu diperkenalkan sebagai sepatu lari. Seketika saya putuskan beli sepatu 910 ini saja.


Beruntung saya tidak jadi lari ke tempat jual sepatu murah tadi. Bisa-bisa saya salah beli sepatu, mau beli sepatu lari malah sepatu kasual. Kelihatannya bermerk eh ternyata bajakan. Selain bisa berbahaya bagi kaki, tidak bisa pamer dong. Malu, masa pamer lari pakai sepatu yang tidak semestinya, bajakan lagi.


Sudah enam bulan saya belajar lari. Meski masih seperti keong tapi setidaknya ada sesuatu yang bisa dilakukan di masa new normal ini. Sesekali ikut even lari virtual. Satu-satunya acara on site adalah Jogja 10K.


Kadang kita tidak tahu apa yang kita butuhkan


Belajar dari Rikuoh, Mogi sebagai pelari marathon tidak tahu sepatu yang paling cocok untuk dirinya. Maka ia membutuhkan seorang shoe fitter. Dan Murano yang sebelumnya sebagai shoe fitter Mogi ikut mengembangkan tabi Rikuoh. Ketika Mogi mencoba Rikuoh, ia merasa nyaman.


Demikian pula dengan kita, eh saya ding. Saya tidak tahu sepatu yang cocok untuk saya adalah yang bagaimana. Dengan belajar berlari, saya baru tahu kalau sepatu lari itu berbeda dengan sepatu kasual. Dengan saya memakai sepatu ori, entah itu lokal atau impor, ada jaminan kualitas untuk dipakai di kaki saya.


Belakangan saya juga belajar dari Mogi, bahwa satu-satunya yang harus dikalahkan adalah ego sendiri. Mogi begitu berambisi Kezuka. Tetapi pada akhirnya dirinya sendiri lah yang harus dikalahkan. Saya pun demikian, ada ego sendiri yang harus saya kalahkan. Untuk bisa melaju lebih jauh dan lebih cepat saya harus mengalahkan ego ini.